Wisata Roro Mendut Pengunjung Bisa Selfie Menggunakan Kostum Kebudayaan

selfie
Seorang pengunjung memanfaatkan wahana Wisata Selfie Roro Mendut berupa gamelan untuk mengabadikan momen | Foto : joss.co.id/yuliantoro

JoSS, JOGJA – Di era digital seperti saat ini, selfie menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Tak hanya di restoran, bandara, stasiun, bahkan di tempat hajatan nikahan disediakan fotocorner untuk pengunjung yang ingin berselfie.

Di Yogyakarta, satu lagi wahana wisata selfie diluncurkan, wahana bernuansa budaya yang penuh nilai edukasi ini bernama Wisata Selfie Roro Mendut. Di tempat ini pengunjung bisa berselfie ria dengan menggunakan kostum bertema budaya.

“Kami ingin mengajak seluruh masyarakat di semua lapisan dari anak-anak, generasi muda, hingga orang tua untuk melestarikan budaya luhur berkaitan dengan cerita wayang purwo. Anda bisa berselfie dengan latar belakang lukisan wayang, berkostum adat Jawa, rumah Jawa berpaduan adat Bali,” ujar Marsekal Muda (Marsda) TNI Purnawirawan Soedjadijono, pemilik Wisata Selfie Roro Mendut di sela acara launching  di Galery Sekar Wangi, Jalan Wonosari Km 9, Dusun Cepor, Sendangtirta, Kecamatan Berbah, Sleman Yogyakarta kemarin.

Galery Sekar Wangi mengetengahkan kaitan dengan budaya wayang purwa. Di rumah perpaduan adat Jawa dan Bali itu, terdapat ratusan koleksi lukisan karya Jack (panggilan akrab Soedjadijono).

Menurut  Jack, lukisan wayang karyanya banyak menceritakan tentang kehidupan manusia dari Berbudi Bawa Leksana menuju arah kehidupan yang berimbang. “Kalau pemimpin, ya pemimpin yang baik. Misal bisa menjadi teladan, panutan, mengerti rakyatnya. Kalau jadi warga, ya warga yang baik,” ujar Jack lagi.

Baca juga : Bidik Wisatawan Kelas Priority Argo Muria Layani Reguler

Launching Wisata Selfie Roro Mendut berjalan meriah bersamaan dengan kunjungan wisata rombongan karyawan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Amino Gondo Utomo Jawa Tengah. Kedatangan 80 wisatawan tersebut disambut dengan tari gambyong oleh penari dari Sanggar Sekar Wangi.

selfie
Sejumlah pengunjung berfoto dengan penari tari gambyong oleh penari dari Sanggar Sekar Wangi | Foto : joss.co.id/yuliantoro

Selain swafoto budaya, di tempat wisata ini juga bisa digunakan untuk foto Pre Wedding, pentas Sendratari Roro Mendut, paket belajar gamelan, paket belajar melukis.

Sementara untuk spot foto selfi antara lain: gamelan, wayang orang, lukisan wayang, omah kewalik, pendopo, kandang sapi, patung kuda, patung gajah, kolam renang, geber wayang kulit dll. Fasilitas yang diberikan free kostumer ruang ganti, penitipan tas, tempat sholat, souvenir outlet, ruang tunggu, wifi.

Tentang nama Roro Mendut, Jack menjelaskan nama ini diambil dari kisah Roro Mendut seorang  gadis anak nelayan  yang cantik dan rupawan,nteguh  pendiriannya, punya harga diri yang tinggi, mandiri  dan pemberani. Ia lahir dari seorang nelayan yang tinggal di desa Teluk Cikal pantai utara Jawa tepatnya di daerah Pati Jawa Tengah. “Dan di Dusun Cepor inilah jasadnya dimakamkan.”

Lebih jauh Jack menceritakan, pada saat itu Pati yang merupakan wilayah taklukan Kasultanan Mataram pimpinan Sultan Agung diperintah Adipati Pragolo II. Situasi kadipaten sedang bergejolak karena Adipati Pragolo dianggap sebagai pemberontak, lantaran sudah tidak mau membayar upeti kepada Mataram.

Baca juga : Tiga Anak Harimau Penghuni Baru Semarang Zoo

Akhirnya Sultan Agung memimpin langsung penyerangan ke Pati. Prajurit Mataram dipimpin Panglima Mataram Tumenggung Wiraguna dan Adipati Pragolo II dapat ditaklukan. Bahkan sekaligus membawa pampasan perang berupa harta kekayaan dan putri-putri cantik termasuk Roro Mendut.

Tumenggung Wiraguna terpesona kepada kecantikan Roro Mendut hingga ingin menjadikan selirnya, namun keinginannya selalu ditolak. “Roro Mendut selalu menyampaikan pendiriannya bahwa ia telah mempunyai seorang kekasih bernama Pranacitra, putra saudagar kaya  Nyi Singobarong yang berdiam di Pati.”

Akhir cerita, lanjut Jack, Roro Mendut  bunuh diri setelah mengetahui kekasihnya terbunuh, dan dimakamkan dalam satu liang lahat, di Dusun Cepor, Sendang Tirta, Berbah. Menurut dia, cerita ini sebagai simbul “Cinta  yang Abadi Masyarakat Jawa “ mengandung pesan moral bahwa harta, pangkat, jabatan bukan jaminan untuk mendapatkan cinta sejati seseorang. (tor/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*