Jack Tampilkan Mahar Politik di Galery Ulam Tirta

mahar politik
Pengunjung nampak serius melihat karya lukis dari Marsda TNI (Purn) Sudjadijono atau dikenal dengan Pak Jack Mahar Politik | Foto : joss.co.id/tor

JoSS, JOGJA – Demi mendapatkan sebuah kedudukan dan kekuasaan manusia harus rela berkorban.

Tak hanya berkorban waktu, tenaga dan harga. Bahkan saudara pun bisa jadi korban. Demikian diungkapkan Marsda TNI (Purn) Sudjadijono, pelukis wayang Yogyakarta.

Marsda TNI (Purn) Sudjadijono atau dikenal dengan Pak Jack, menggelar pameran di Ulam Tirta Resto, Jalan Tegal Turi 2 Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta.

Pameran lukisan digelar selama Juli 2018. Ada delapan lukisan yang dipajang di galery tersebut, di antaranya adalah Mahar Politik.

Jack mengatakan, penampilan Mahar Politik karena ikut meramaikan tahun politik saat ini menjelang Pilihan Legislatif dan Pilihan Presiden.

Mahar Politik, lanjut Jack, menceritakan kisah tokoh wayang Suwondo (Sumantri) ketika mencari kedudukan di Negeri Maespati.

Dia menceritakan dalam meraih cita-citanya menjadi Patih, Suwondo harus rela berkorban.

Baca juga : Mendulang Rupiah Dari Sketsa Tokoh Di Tahun Politik

Bahkan sampai membunuh adiknya Sukrosono yang memiliki tampang jelek seperti buto. Dan tercapailah hajat menjadi Patih Maespati, meskipun akhirnya Suwondo menyesali perbuatannya.

mahar politik
Kisah tokoh wayang Suwondo (Sumantri) ketika mencari kedudukan di Negeri Maespati disajikan dalam Mahar Politik karya Marsda TNI (Purn) Sudjadijono | Foto : joss.co.id/tor

“Dia menyesal, tetapi sang adik sudah terbunuh. Jadi dia meraih kekuasaan dengan membunuh adiknya sendiri, itulah politik,” ujarnya.

Mahar Politik merupakan karya lukis terbarunya tahun 2018 awal lalu berukuran besar yaitu 250 cm x 130 cm di atas kanvas dengan cat oil acrilic.

Jack memang rutin menggelar pameran karya lukis wayangnya karena ingin nguri-nguri kebudayaan. Ia ingin membumikan kisah pewayangan melalui media lukis kepada masyarakat dan generasi  muda. “Cerita Wayang itu sarat dengan budi pekerti, perilaku luhur yang mestinya menjadi dasar manusia di dunia.”

Pengelola Ulam Tirta Resto, Ariyanto mengatakan pihaknya ingin menfasilitasi para seniman untuk menggelar karyanya. Ulam Tirta memiliki space luas yang bisa untuk memajang karya lukis. “Dinding dinding di area Ulam Tirta masih kosong. Kalau diisi dengan tampilan lukisan akan sangat bagus. Ini juga akan menjadi daya tarik wisatawan yang makan di Ulam.”

Selama setahun lebih keberadaan Ulam Resto, sudah ribuan wisatawan dari berbagai daerah singgah makan di Ulam Tirta. Setidaknya, kata dia, tiap hari Jumat, Sabtu Minggu atau hari libur selalu dipadati puluhan bus wisata dari Jawa, Sumatra dan tempat lainnya. (tor/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*