PURWOREJO, JOSS.CO.ID — Komitmen dalam membantu masyarakat menghadapi ancaman kekeringan ditunjukkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui Sekolah Pascasarjana yang bekerja sama dengan Muda Ganesha (alumni SMA Negeri 1 Purworejo), UGM berhasil membangun 11 sumur bor di sejumlah desa di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Program kolaboratif ini dirancang untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi warga sekaligus menjaga produktivitas sektor pertanian saat musim kemarau tiba.
Peresmian 11 sumur bor tersebut dipusatkan di Desa Kertosono, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, pada Senin, 12 Oktober 2026. Pembangunan fasilitas air tanah ini merupakan paduan antara kajian ilmiah geologis dan dukungan lintas pihak guna memberikan solusi tepat sasaran bagi masyarakat.
Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, menyampaikan apresiasinya dan menegaskan bahwa ketersediaan air merupakan modal utama penopang kebutuhan harian serta roda ekonomi warga.
“Ketersedian air dari sumur bor ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung kegiatan pertanian dan penghidupan masyarakat,” ujarnya.
Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, menekankan bahwa kunci sukses program ini terletak pada keberlanjutan sinergi antara akademisi, pemerintah, dan warga setempat.
“Sinergi seperti ini perlu terus dikembangkan agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujarnya.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Lingkungan UGM, Dr. Sudaryatno, menjelaskan bahwa proyek penyediaan air ini berbasis pada riset potensi air tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bogowonto yang dimulai sejak tahun 2024.
“Waktu itu kami mengadakan penelitian untuk potensi air tanah di DAS Bogowonto,” katanya.
Hasil penelitian awal tersebut kemudian ditindaklanjuti secara berkala melalui survei lapangan dan pengeboran bertahap dari tahun 2024, 2025, hingga meluas pada tahun 2026 hingga terealisasi 11 titik sumur bor.
Sudaryatno menegaskan, penentuan titik pengeboran tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Diperlukan pemetaan geologis untuk mengukur potensi debit air serta kedalaman ideal. Sebagai contoh, salah satu sumur bor dengan kedalaman 62 meter mampu menghasilkan debit air hingga 4 liter per detik.
“Kalau harapan saya, yang penting ada program dari UGM yang secara teknis dulu. Studi dulu semua, titik-titik mana yang diperlukan di seluruh kabupaten, kemudian bisa dikembangkan secara bertahap,” ujarnya.
Kehadiran sumur bor ini langsung dirasakan dampaknya oleh para petani. Di beberapa titik, sumur bor sanggup mengairi lahan pertanian hingga seluas 2,5 hektare. Petani yang sebelumnya kesulitan mendapatkan air saat Musim Tanam III (MT III) kini kembali bisa mengolah lahannya, bahkan beberapa di antaranya telah berhasil memanen hasilnya.
“Tapi sekarang alhamdulillah mereka bisa MT3,” katanya.
Melihat keberhasilan ini, permintaan bantuan sumber air terus berdatangan dari berbagai daerah. Sudaryatno mendorong adanya perluasan pemetaan dan kerja sama, tidak hanya di Jawa Tengah tetapi juga hingga tingkat nasional.
“Minimal kalau bisa seluruh Indonesia. Bulan ini saya ke Belu, NTT. Bersama Bupati Belu, kami merencanakan survei di 80 desa untuk melihat potensi pengembangan sumur bor,” katanya.
Melalui pendekatan ilmiah dan komitmen pemeliharaan bersama, keberadaan 11 sumur bor ini diharapkan menjadi pilar ketahanan pangan dan solusi jangka panjang warga Purworejo dalam menghadapi musim kemarau.
Baca Juga: Antisipasi Wabah Pes Rusia: Pakar UGM Tekankan Surveilans Tikus dan Kesiapan Nakes

Leave a Reply