Khofifah dan Risma Minta Maaf Atas Peristiwa Yang Menimpa Mahasiswa Papua

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini | Foto: jawapos/katimpost

JoSS, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang menimpa mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, pada Jumat-Sabtu (16-17/8). Hal yang sama juga diungkapkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Saya ingin menyampaikan permintaan maaf atas nama masyarakat Jatim, sekali lagi (kejadian tersebut) itu tidak mewakili masyarakat Jatim,” ujar Khofifah, Senin (19/8).

Khofifah mengatakan, insiden yang menimpa mahasiswa Papua itu dilakukan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Oknum tersebut diduga sengaja membuat provokasi untuk menyulut massa.

“Yang terkonfirmasi ke beberapa elemen kemudian menimbulkan sensitivitas adalah kalimat-kalimat yang kurang sepantasnya terucap. Saya ingin menyampaikan bahwa itu sifatnya personal itu tidak mewakili masyarakat Jatim,” katanya.

Mantan Menteri Sosial RI ini menjamin bahwa masyarakat dan mahasiswa Papua yang tengah berada di Jawa Timur tetap dalam kondisi aman dan terlindungi dengan baik.

Baca juga: Minta Warga Saling Memaafkan, Jokowi: Pemerintah Jaga Papua-Papua Barat

“Seluruh mahasiswa Papua yang sedang studi di Jatim mereka akan terjaga keamanannya mereka akan terlindungi. Jadi saya berharap mereka bisa melanjutkan studinya dengan baik,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta maaf bila ada kesalahpahaman terkait kejadian di asrama mahasiswa Papua. Dia menyesalkan adanya kejadian tersebut.

“Saya pikir itu tidak perlu saya, sekali lagi kalau memang itu ada kesalahan di kami di Surabaya, saya mohon maaf, tapi tidak benar kalau kami dengan sengaja mengusir, tidak ada itu,” kata Risma.

Dia meminta semua pihak menahan diri buntut kejadian di asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Risma mengingatkan tak ada perbedaan di antara suku satu dengan yang lain.

Sebelumnya, polisi sempat menangkap 43 mahasiswa untuk dimintai keterangan terkait dugaan pembuangan bendera Merah Putih, Sabtu (17/8). Mereka dijemput di Asrama Mahasiswa Papua untuk dibawa ke Mapolresta Surabaya. Namun kemudian 43 mahasiswa tersebut akhirnya dipulangkan ke asrama. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*