Gelombang panas Eropa menewaskan lebih dari 1300 orang, suhu ekstrem pecahkan rekor dan kini bergeser ke Balkan hingga Ukraina.
JOSS.CO.ID – Gelombang panas Eropa kini mencapai fase paling mematikan, dengan jumlah korban jiwa melampaui 1.300 orang sejak akhir Juni. Suhu ekstrem yang memecahkan rekor tidak hanya melanda Eropa Barat, tetapi kini mulai bergeser ke wilayah timur seperti Balkan hingga Ukraina.
Fenomena gelombang panas Eropa ini menjadi salah satu yang terparah dalam sejarah modern. Suhu di berbagai negara melonjak jauh di atas rata-rata musiman, bahkan mencapai selisih hingga 18°C lebih panas dari kondisi normal.
Penyebab Gelombang Panas Eropa
Dilansir dari euronews.com, para ahli meteorologi menyebut kondisi ini dipicu oleh pola cuaca yang dikenal sebagai omega block. Pola ini menjebak udara panas dan kering dari Afrika Utara di atas Eropa, sementara sistem tekanan rendah di kedua sisi menghambat pergerakannya.
Akibatnya, panas ekstrem bertahan lebih lama dan menyebar luas. Eropa juga dinilai rentan karena hanya sekitar 20% rumah yang memiliki pendingin udara, serta banyak bangunan dirancang untuk menahan panas.
Gelombang panas Eropa ini merupakan yang kedua dalam dua bulan terakhir, setelah sebelumnya terjadi pada akhir Mei dengan suhu 10–15°C di atas normal.
Skala Dampak dan Perubahan Iklim
Sekitar 130 juta orang di Eropa Tengah dan Timur menghadapi suhu di atas 35°C, sementara lebih dari 269 juta orang diperkirakan mengalami suhu di atas 30°C.
Ilmuwan dari World Weather Attribution menyatakan gelombang panas ini kemungkinan besar tidak akan terjadi sedini ini tanpa perubahan iklim. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan tercepat di dunia.
Korban Jiwa Meningkat
Lebih dari 1.300 kematian tercatat sejak 21 Juni. Korban termasuk anak-anak yang meninggal di dalam mobil tertutup serta remaja yang tenggelam saat mencari cara untuk mendinginkan diri.
Prancis menjadi negara paling terdampak, dengan sekitar 1.000 kematian tambahan sejak 24 Juni, sebagian besar terjadi pada kelompok usia di atas 65 tahun. Selain itu, puluhan kasus tenggelam dilaporkan akibat aktivitas berenang tanpa pengawasan.
Tedros menyebut stres panas sebagai “silent killer” dan mendesak pemerintah Eropa untuk memperkuat rencana penanganan kesehatan terkait suhu ekstrem.
Rekor Suhu Pecah di Banyak Negara
Gelombang panas Eropa memecahkan rekor suhu di berbagai negara:
– Republik Ceko mencatat 41,9°C, tertinggi sepanjang sejarah.
– Jerman mencapai 41,7°C dan mengalami malam terpanas dengan suhu tidak turun di bawah 29,4°C.
– Polandia mencatat 40,5°C, melampaui rekor lebih dari 100 tahun.
– Spanyol mencapai 43,7°C di wilayah Cantabria, rekor tertinggi sepanjang masa.
Rekor suhu bulanan juga terjadi di Inggris dan Swiss, menandakan luasnya dampak gelombang panas ini.
Respons Pemerintah
Sejumlah negara mengambil langkah darurat untuk menghadapi gelombang panas Eropa. Paris membatasi aktivitas publik tertentu dan menutup lebih awal objek wisata. Pemerintah Prancis juga mengalokasikan lebih dari 130 juta euro untuk pendinginan sekolah dan fasilitas publik.
Di Jerman, polisi menggunakan meriam air untuk membantu warga mengatasi panas. Sementara itu, beberapa acara besar di Belgia terpaksa dibatalkan demi keselamatan publik.
Pergerakan ke Timur dan Ancaman Ukraina
Gelombang panas kini bergerak ke Balkan dan Ukraina. Negara seperti Hungaria, Serbia, Rumania, Kroasia, hingga Ukraina bagian barat diperkirakan mengalami suhu di atas 35°C.
Bosnia menghadapi kebakaran hutan akibat panas ekstrem. Di sisi lain, Ukraina menghadapi tantangan lebih besar karena jaringan listriknya rusak akibat perang. Operator energi melaporkan sistem listrik saat ini “operating at the limit of its capabilities” akibat tekanan tinggi dan perbaikan pasca serangan.
Dampak Lebih Luas
Para ahli memperingatkan bahwa gelombang panas Eropa adalah bagian dari tren perubahan iklim jangka panjang. Dalam 50 tahun terakhir, suhu rata-rata Eropa telah meningkat sekitar 2°C.
Fenomena ini diperkirakan masih akan berlangsung beberapa hari ke depan sebelum bergeser lebih jauh ke wilayah Turki dan Asia Tengah. Meski ada potensi hujan badai yang membawa sedikit penurunan suhu, kondisi panas diprediksi tetap tinggi.
Pakar iklim juga mengingatkan bahwa gelombang panas semakin sering terjadi, dan risiko ke depan akan semakin besar jika tidak diantisipasi secara serius.

Leave a Reply