BNPB Akan Berikan Dana Tunggu Bagi Korban Erupsi Semeru Selama Masa Pembangunan Rumah

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (Foto: twitter @BNPB_Indonesia)

JoSS, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara paralel akan mempersiapkan penanganan pascabencana bagi warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021). Di antaranya memberikan dana tunggu, selama rumah warga dibangun kembali.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan bahwa BNPB akan memberikan dana tunggu kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan sedang hingga berat akibat tertimbun abu vulkanik dari erupsi Gunung Semeru.

“Kami akan membangun kembali rumah warga yang rusak. Selagi menunggu dibangun, kami akan berikan dana tunggu kepada mereka yang terdampak untuk menyewa rumah sementara selama 6 bulan,” kata Suharyanto pada rapat koordinasi tanggap sarurat bencana erupsi Gunung Semeru melalui keterangan pers, Minggu (5/12/2021).

Suharyanto berharap selama 6 bulan tersebut rumah warga yang terdampak sudah dapat terbangun kembali di lokasi yang lebih aman. Saat ini, rencana pembangunan menunggu perizinan untuk penggunaan lahan dari pemerintah daerah.

“BNPB bersama-sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Dinas PUPR akan terus mengawal perizinan tersebut,” jelasnya. Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Jarwansah mengatakan bahwa setiap KK yang rumahnya mengalami kerusakan dan tidak dapat ditinggali kembali akan mendapatkan Rp500.000 setiap bulan selama kurun waktu 6 bulan.

Baca juga: BMKG: Hampir Seluruh Wilayah RI Hujan Lebat Selama Periode Natal dan Tahun Baru 2022

Hingga kini BNPB, BPBD, dan instansi terkait masih melakukan asesmen dan pendataan cepat kerusakan rumah yang timbul akibat kejadian bencana erupsi Gunung Semeru.

Sementara itu, data BNPB mencatat 5.205 jiwa terdampak erupsi Gunung Semeru. Dari total tersebut, 1.300 orang di antaranya mengungsi. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan jumlah warga yang mengungsi ini bertambah dari data sebelumnya yaitu 902 orang.

“Ada 9 orang yang belum terdata apakah statusnya hilang atau meninggal,” kata Muhari dalam keterangan pers secara virtual, Minggu (5/12/2021).

Lebih lanjut, Muhari mengungkapkan korban meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru bertambah 1 orang pada Minggu (5/12) sehingga totalnya menjadi 14 orang. Dia menjelaskan dua korban meninggal di antaranya berada di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

“5 [korban meninggal] di RSUD Haryoto, 5 di RS Bhayangkara Lumajang, belum teridentifikasi dan 2 di Sumber Wuluh,” ujarnya. Muhari menjelaskan bahwa untuk korban luka berat jumlahnya mencapai 35 orang. Perinciannya, ada 8 orang yang sedang dirawat di RSUD Haryoto. Kemudian, 16 korban luka berat di Pasuruan, 3 di RS Bhayangkara, 8 di Puskesmas Penanggal.

Untuk luka ringan, BNPB mencatat jumlahnya mencapai 21 orang. Dengan demikian, total seluruh warga yang menderita luka-luka akibat erupsi Gunung Semeru mencapai 56 orang. Jumlah tersebut berkurang dari catatan sebelumnya yaitu 69 orang.

Muhari mengungkapkan saat ini masih belum terbentuk posko terpadu tanggap darurat sehingga membuat koordinasi dan pendataaan korban masih terpisah antara satu pos dengan lain. “Pak Kepala BNPB memerintahkan harus terbentuk 1 posko terpadu sehingga bisa terkoordinasi dan data bisa terkonsolidasi,” ujarnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*