Desa Wisata Agro Bangunkerto Sleman, Tawarkan Sensasi Petik Buah Salak Langsung Dari Pohon

Ilustrasi petik buah salal (Foto: abc.net.au)

BERLIBUR tidak harus selalu mengunjungi pusat perbelanjaan atau objek wisata yang memiliki berbagai wahana wisata, apalagi pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Nah, jika Anda sedang berada di Jogja, cobalah mampir ke Desa Wisata Agro Bangunkerto, Sleman.

Saat memasuki kawasan ini, Anda langsung disambut berderet pohon salak dan kesejukan udara khas pedesaan. Anda akan melihat rumah-rumah warga yang menjual buah salak, bahkan di pinggir-pinggir jalan sangat mudah dijumpai, kerangjang-kerangjang yang penuh buah salak.

Ya, di desa ini sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani salak ini berlokasi di Kampung Gadung, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Berdiri sejak tahun 1989, Desa Wisata Agro Bangunkerto dikelola pertama kali oleh Dr Soebroto Soedibyo. Desa wisata penghasil salak ini pernah mengalami masa-masa keemasan sekitar tahun 2000-an.

Luasnya yang mencapai 27 hektar, menjadikan Desa Wisata Agro Bangunkerto mempunyai berbagai jenis salak unggulan yang belum tentu ada di negara lain.

Baca juga: 9 Desa Wisata di Magelang Jadi Penopang Pariwisata Borobudur

Tercatat sekitar 17 jenis salak terdapat di desa ini. Sebut saja seperti salak super asli Indonesia, salak madu, salak manggala, salak hitam, salak gading, salak klinting, salak gula pasir, salak pondoh dan beberapa salak lainnya.

Desa berjuluk surga-nya salak di Jogja ini ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Pengelola menyiapkan berbagai jenis tiket, mulai dari tiket masuk biasa seharga Rp 3000, atau dengan harga tiket masuk Rp 10.000 dengan fasilitas ditemani seorang pemandu serta boleh memetik salak dan makan di tempat.

Bila Anda ingin mendapatkan berbagai fasilitas ditambah dengan bingkisan salak saat selesai berkunjung Anda cukup membayar Rp 20.000 saja.

Menurut cerita salah satu pemandu Desa Wisata Agro Bangunkerto, salak yang paling digemari pengunjung adalah salak super. Selain harganya relatif murah, salak ini terkenal manis dan memiliki daging buah yang besar. Sementara salak Gading termasuk dalam kategori salak yang paling mahal, karena jenis salak ini termasuk salak langka.

Berkunjung ke desa wisata ini dan memetik salak langsung dari pohonnya merupakan sensasi yang akan menjadi pengalaman yang berkesan. Selain itu, kita juga bisa makan salak sambil santai memancing ikan di kolam yang sudah disediakan pengelola.

Salak yang diproduksi di Kabupaten Sleman telah dipasarkan baik di dalam dan luar negeri, bahkan telah di ekspor ke China. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*