JoSS, HONG KONG – Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam pantang untuk mundur dari jabatannya meski aksi unjuk rasa di Hong Kong belum juga selesai setelah 10 pekan lamanya. Para demonstran hanya menginginkan Lam untuk mundur.
Lam telah menjadi wajah pemerintah Hong Kong selama protes berbulan-bulan yang bertujuan menentang rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi dari wilayah ini ke China daratan.
Meski pembahasan RUU ini kemudian ditangguhkan, kisruh mengenainya belum menemukan titik terang. Kekhawatiran masyarakat Hong Kong bahwa rencana ini tetap bakal dimajukan dan mengakhiri otonomi wilayah tersebut mendorong protes masif yang berkelanjutan.
Pihak berwenang sudah jelas tak bisa tinggal diam. Bentrokan antara penegak hukum dan pendemo pun sudah menjadi pemandangan sehari-hari selama dua bulan belakangan.
Baca juga: 92 WNI di Bandara Hong Kong Akhirnya Bisa Pulang Ke Tanah Air
Dalam suatu konferensi pers baru-baru ini, Lam membela polisi kota dan menyerukan para demonstran anti-pemerintah untuk tidak mendorong kota ini ke “jurang maut”. Si empunya nama ini juga menolak salah satu tuntutan pengunjuk rasa agar ia mundur dari posisinya.
RUU ekstradisi adalah tantangan serius pertama Lam sejak terpilih pada tahun 2017 sebagai pemimpin wanita pertama Hong Kong. Pada waktu itu, dia bukan kandidat populer untuk mendudukinya.
Namun dia disukai oleh Beijing dan mereka yang memutuskan siapa yang akan memimpin wilayah itu. Seorang pemimpin eksekutif dipilih oleh komite yang terdiri dari para perwakilan berjumlah 1.200 orang.
Takdir akhirnya membawa Lam berhasil menang dengan total 777 suara. Ia berjanji untuk tetap rendah hati dan mendengarkan aspirasi rakyat.
“Saya pikir ini bukan soal angka. Pertanyaannya adalah tentang legitimasi. Komite pemilihan itu sendiri dibentuk dari pemilih yang jauh lebih besar dan secara luas mewakili semua sektor dalam masyarakat di Hong Kong,” tuturnya kepada BBC saat itu. (lna)

Leave a Reply