JoSS, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menguat pada Jumat pagi, 20 September 2024, dengan semakin mendekati level Rp 15.000 per dolar AS. Berdasarkan data pasar spot, kurs rupiah tercatat di Rp 15.094 per dolar AS pada pukul 10.50 WIB, menguat 145 poin atau 0,95 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp 15.239 per dolar AS.
Penguatan rupiah didorong oleh melemahnya indeks dolar AS. Menurut data Investing, indeks dolar terpantau berada di zona merah di kisaran 100,27 poin pada pagi hari. Koreksi indeks dolar terjadi setelah The Federal Reserve (The Fed) secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, atau 0,5 persen, lebih besar dari ekspektasi pasar yang hanya memproyeksikan penurunan 0,25 persen.
“Rupiah diperkirakan masih akan menguat terhadap dollar AS yang melanjutkan pelemahan di tengah euphoria investor menyikapi pemangkasan jumbo 50 bps oleh The Fed,” kata Lukman Leong, pengamat komoditas dan mata uang, dalam keterangannya pada Jumat.
Selain itu, imbal hasil surat utang pemerintah AS berjangka dua tahun juga terkoreksi, turun sekitar 1 persen menjadi 3,56 persen. Penurunan ini turut memberikan tekanan terhadap dolar AS yang mengalami pelemahan terhadap beberapa mata uang utama di Asia, termasuk rupiah.
Dolar AS juga terpantau melemah terhadap dolar Singapura (-0,13 persen), peso Filipina (-0,05 persen), rupee India (-0,13 persen), yuan China (-0,23 persen), ringgit Malaysia (-0,62 persen), dan baht Thailand (-0,16 persen).
Ibrahim Assuaibi, Direktur Laba Forexindo Berjangka, memperkirakan rupiah dapat terus terapresiasi hingga di bawah Rp 15.000 per dolar AS menjelang akhir September 2024 jika tren pelemahan dolar AS berlanjut.
Faktor Penguatan
Melemahnya indeks dolar serta penurunan imbal hasil surat utang AS mendorong pergerakan positif bagi rupiah dan mata uang lainnya di kawasan Asia. Keputusan The Fed yang memangkas suku bunga lebih besar dari ekspektasi juga memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di samping itu, penurunan imbal hasil obligasi AS memberikan ruang bagi penguatan aset berisiko di pasar negara berkembang. Hal ini juga didukung oleh minat investor global yang mulai beralih dari dolar AS ke aset di negara lain, termasuk Indonesia, yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Ekonom memprediksi tren penguatan rupiah dapat berlanjut sepanjang bulan ini jika kondisi pasar global dan domestik tetap kondusif.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Nilai Tukar Rupiah Menguat, Mendekati Rp 15.000 per Dolar AS

Leave a Reply