JOSS.CO.ID, Wonosobo – Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, mendukung penuh upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Wonosobo. Ia mengungkapkan bahwa meskipun berbagai upaya telah dilakukan, tingkat kemiskinan di daerah tersebut masih tergolong tinggi, dengan 15,28% warga Wonosobo berada dalam kategori miskin.
Sumanto menegaskan pentingnya kerjasama antara berbagai pihak, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten, untuk menurunkan angka kemiskinan tersebut.
Ia menambahkan, alokasi anggaran baik dari APBD provinsi maupun kabupaten harus difokuskan untuk program pengentasan kemiskinan, agar setidaknya standar kehidupan dasar warga dapat tercapai.
“Harapan kami adalah agar pendapatan warga Wonosobo mencapai minimal Rp2,3 juta per bulan,” ujarnya, dalam kunjungannya ke Wonosobo pada hari Senin (21/04/2025).
Sumanto juga menggarisbawahi potensi besar yang dimiliki Wonosobo, terutama di sektor pertanian dan pariwisata. Daerah yang terletak di dataran tinggi ini memiliki keunggulan dalam sektor pertanian yang subur, bahkan tidak pernah mengalami kekeringan. Di samping itu, sektor pariwisata di Wonosobo juga telah dikenal luas, yang menjadi harapan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Potensi pertanian Wonosobo sangat besar, dan sektor pariwisatanya juga terkenal. Jika ini dapat dimanfaatkan dengan optimal, angka kemiskinan yang masih tinggi ini bisa berkurang. Jika ada faktor lain yang mempengaruhi, perlu kita bahas bersama-sama,” tambahnya.
Anggota Komisi E DPRD Jateng, Messy Widiastuti, mengungkapkan kekhawatirannya karena Wonosobo menempati urutan ketiga daerah termiskin di Jawa Tengah, setelah Brebes dan Kebumen.
“Kami berharap kolaborasi antara Pemprov dan Pemkab bisa mengatasi permasalahan ini agar pendapatan masyarakat bisa meningkat,” ujarnya.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, juga menekankan komitmennya dalam mengurangi angka kemiskinan. Pada masa awal kepemimpinannya pada 2015, angka kemiskinan di Wonosobo mencapai 21%, menjadikannya salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jateng.
Namun, berkat berbagai inisiatif, angka tersebut berhasil turun menjadi 17% pada 2021, dan terus menurun hingga 15,28% saat ini.
Menurut Afif, salah satu penyebab kemiskinan yang masih mengemuka adalah adanya ego sektoral yang menghambat program pengentasan kemiskinan. Selain itu, data yang belum sepenuhnya transparan dan masalah infrastruktur seperti ketidaktersediaan listrik, sanitasi yang buruk, serta rumah tidak layak huni, masih menjadi masalah utama.
“Kami menyadari bahwa banyak warga yang membutuhkan bantuan, baik dalam hal rehab rumah, penyediaan fasilitas jamban sehat, maupun akses listrik,” jelasnya.
Afif juga mencatat bahwa banyak anak-anak di Wonosobo yang terpaksa putus sekolah karena kurangnya fasilitas pendidikan, seperti tidak adanya SMA Negeri di beberapa kecamatan.
“Kami berencana untuk membangun sekolah di dua kecamatan yang belum memiliki SMA Negeri, agar anak-anak tidak putus sekolah dan dapat melanjutkan pendidikan mereka,” tuturnya.
Dengan berbagai langkah konkret yang telah diambil, baik oleh Pemkab Wonosobo maupun DPRD Jawa Tengah, diharapkan kemiskinan di Kabupaten Wonosobo dapat ditekan lebih lanjut dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.

Leave a Reply