JoSS, SALATIGA – Tim pengajar dan peneliti dari Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) Salatiga tengah berjuang mengembangkan model smart farming 4.0 yang mudah diterapkan di Indonesia. Dengan model yang aplikabel atau mudah diterapkan, diyakini smart farming yang didukung teknologi informasi akan memberikan hasil guna yang maksimal bagi sektor pertanian.
Model smart farming 4.0 yang aplikabel mempertimbangkan tidak hanya jenis tanaman pertanian yang potensial dikembangkan, tapi juga mempertimbangkan aspek bisnis dan teknologi pendukung untuk budidayanya. “Kami terus mencoba mengidentifikasi jenis-jenis tanaman yang prospektif untuk dikembangkan. Tiap daerah memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda, karena itu kami mencoba berbagai model dan jenis komoditas yang dikembangkan,” kata Prih Suprihati, salah satu anggota Tim Pengembangan Smart Farming 4.0 FPB UKSW, Minggu (23/2/2020).
Sebagai langkah awal, Tim Smart Farming 4.0 FPB UKSW yang terdiri dari 15 peneliti, telah mempublikasikan hasil kajiannya menjadi sebuah buku yang diberi judul “Smart Farming: Pertanian di Era Revolusi Industri 4.0” yang diterbitkan oleh Penerbit Andi Jogja. Buku tersebut akan diluncurkan besok Kamis (27/2/2020) di Balairung Utama Kampus UKSW. Bersamaan dengan peluncuran buku, diadakan sharing penerbitan buku, bertema: Ikatlah ilmu dengan tulisan. Menampilkan Dr Ir Nugraheni Widyawati MP (engajar FPB UKSW yang juga anggota Tim Penulis Buku) dan Joko Irawan Mumpuni dari Penerbit Andi Jogja.
Buku yang ditulis oleh 15 peneliti tersebut, diharapkan bisa memberi gambaran yang lengkap tentang pertanian di era revolusi industry 4.0. Karena di dalamnya diulas secara lengkap perkembangan teknologi informasi bagi petani dari awal kemunculannya sampai pada kondisi terkini.
Menurut Maria, juru bicara Tim Smart Farming FPB UKSW, penggunaan teknologi informasi dalam bidang pertanian menjadi suatu kenicscayaan. Dia menyebutkan, pemakaian teknologi informasi dan teknlogi modern mengarah pada third green revolution alias revolusi hijau ketiga. Dengan model yang disebut smart farming ini, memberi peluang bagi petani untuk menghasilkan produk yang kualitasnya lebih baik, sehingga harga yang diterima petani pun lebih memadai.
Baca juga: BPR Hasil Merger 29 BKK di Jateng Bakal Fokus Biayai UKM dan Sektor Pertanian
“Salah satu concern kami dalam mengembangkan smart farming adalah kesejahteraan petani. Kalau petani tidak sejahtera, keberlanjutan usaha tani kita terancam. Kalau itu dibiarkan berlanjut, kita akan tergantung pada pasok impor. Akan menjadi ironi besar, negeri yang begitu makmur harus impor untuk memenuhi kebutuhan pangannya,” ungkap Maria.
Penggunaan teknologi informasi pun diyakni bisa membuat usaha tani menjadi lebih efektif dan efisien. Semua kebutuhan tanaman bisa diukur secara presisif, dan pemenuhannya mulai dari air, cahaya, sampai zat hara bisa dipenuhi secukupnya. Dengan tingkat efisien yang dicapai, dipastikan bisa menghemat biaya produksi, sementara untuk pengendalian hama pun bisa diminimalisasi dengan teknologi.
Yang menarik, penggunaan teknologi informasi bisa menarik minat generasi milenial untuk terlibat dalam proses usaha tani khususnya dan sektor pertanian pada umumnya. Kondisi kini, para pelaku di sektor pertanian didominasi oleh mereka yang usianya di atas 40 tahun. Anak muda tidak tertarik masuk kegiatan pertanian karena dianggap kurang bergengsi. Masuknya teknologi informasi diharapkan bisa menjadi daya tarik bagi anak muda untuk mau bergelut di sektor pertanian.
Pemanfaatan teknologi informasi di sektor pertanian saat ini juga sudah dikembangkan untuk mendukung pemasaran produk. Langkah Kementerian Pertanian yang mulai menyiapkan adanya data tunggal pertanian diharapkan bisa menyempurnakan pola pasok kebutuhan pangan menadi lebih baik. Dengan data digital tunggal, diharapkan kerusakan produk pangan pada proses pengiriman dari produsen ke konsumen bisa dikurang. (awo)

Leave a Reply