
JoSS, BATANG – Kirab kebo bule (kerbau berwarna putih) keliling kota selama ini cuma dikenal di Solo.
Kerbau-kerbau ini dipercaya sebagai turunan Kebo Bule Kyai Slamet dan dianggap keramat.
Melansir akun bejoyomangan, Kirab Kebo Bule atau Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta biasanya diselenggarakan pada malam satu suro.
Namun di Kabupaten Batang, Kirab Kabo Bule ternyata juga sangat dikenal.
Tahun ini warga di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, menggelar Kirab Kebo Bule dan gunungan hasil bumi, Kamis (24/1) Sore.
Meski diguyur hujan lebat tidak mengurangi antusias warga dalam melestarikan ritual budaya kirab Kebo Bule, iringan sholawat nabi juga mewarnai jalannya kirab mengelilingi desa.
Tak hanya orang dewasa, tampak anak-anak kompak mengenakan baju adat semangat mengikuti iring-iringan di tengah guyuran hujan.
Selain untuk melestarikan budaya, kirab tersebut juga sebagai bentuk syukur warga atas Hasil bumi yang melimpah dan tidak adanya wabah penyakit atau pagebluk selama tujuh tahun.
Camat Wonotunggal, Himawan mengatakan kirab ini merupakan siklus yang diadakan setiap tahun, dengan puncak acara pada tahun ke tujuh yang menyembelih kebo bule.
“Kirab ini bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur warga atas hasil panen sekaligus sekaligus terhindar dari pagebluk dan dijauhkan dari penyakit,” tuturnya seperti dirilis Tribunjateng.com.
Baca juga: Salah Satu Kerbau Bule Pusaka Keraton Surakarta Mati
Menurutnya, untuk siklus tahunan kirab biasanya warga hanya menyembelih seekor kambing kendit, kambing putih yang mempunyai bulu hitam melingkar di perut.
Namun pada tahun ke tujuh disyaratkan untuk menyembelih Kebo Bule sebagai sesaji yang nantinya akan dilarung di Gunung Rogo Kusumo.
“Ini merupakan ritual budaya rutin tahunan, namun kali ini berbeda kalau setiap tahun hanya kambing yang disembelih, karena setiap tujuh tahun sekali menyembelih Kebo Bule setelah diarak keliling desa yang selanjutnya dilarung di Gunung Rogo Kusumo,” jelasnya.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Wahyu Budisantoso mengatakan Pemkab selalu mendukung segala bentuk kegiatan seni dan budaya asli masyarakat Batang.
Karena menurutnya seni dan budaya tidak bisa dilepaskan dari wisata.
“Makanya dari rangkaian kegiatan ini kita terus memberikan pembinaan dan pendampingan dari bedah budaya, bedah situs yang nantinya akan menjadi daya tarik wisata,” tuturnya.
Untuk membesarkan nama Batang di Pariwisata, pihaknya juga akan semua acara bersama dengan semua komunitas. (Wiek/lna)

Leave a Reply