Shae Bakal Tunjukkan Kebolehannya di Panggung Teater

Shae
Sheryl Gething atau lebih dikenal sebagai Shae | Foto: instagram shae_official

JoSS, JAKARTA – Penyanyi Sheryl Gething atau lebih dikenal sebagai Shae tengah sibuk berlatih untuk teater bertajuk Bunga Untuk Mira yang akan dipentaskan selama dua hari pada 22 dan 23 Desember 2018 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

“Hari ini lagi persiapan untuk teater yang berjudul Bunga Untuk Mira. jadi kostum udah siap, nanti lagu kita running pake kostum, ini pake baju casual dulu,” kata Shae di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, belum lama ini seperti dirilis Tribunnews.com.

Pertama kali terjun ke dunia seni peran, Shae  merasa perlu banyak berlatih, tidak hanya peran ia juga berlatih untuk menari.

“Karena aku memang penyanyi, enggak biasa nari, narinya bebas gitu kan. Ini terpake banget namanya teater. Proses aku dimulai dari nari dulu 2 bulan. Baru kita mulai secara cast, ada proses reading, baru latihan akting,” katanya.

Pemeran tokoh Mira dalam kisah ini mengaku bahwa bermain dalam sebuah panggung teater merupakan impiannya sejak dulu.

Baca juga: Benarkah Diet Detoks Dapat Membuang Racun Di Tubuh? 

“Aku sebenarnya dari dulu pengin ikut teater, cuma belum dapat kesempatannya. Jadi di rumah berdoa ‘pengin dong teater’. Karena sudah banyak nih pengalaman nyanyi aku. Bisa sampai ke luar negeri, Eropa segala macam,” ujarnya.

Ikut serta dalam teater juga merupakan bentuk dari penyaluran bakatnya dan bidang akting.

“Tapi akting aku baru sampai sini nih, aku pengen dichallenge lagi secara aktris. Ternyata dapet nih, kata mbak Mia Jo, sang penulis dan director, ‘kayaknya kamu yang paling cocok jadi Mira’. Aku bilang siap. Aku bakal giat belajar,” tutupnya.

Bunga Untuk Mira disutradarai oleh Mia Johannes dengan menyerap cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih. Menurut Mia, pentas ini akan berbeda dengan teater musikal pada umumnya.

Pasalnya, Bunga untuk Mira dijanjikan bakal menyajikan teater musikal yang menyuguhkan berbagai macam konflik. Selain kisah cinta, tema ambisi hingga kematian akan dikemas sesuai dengan era kekinian.

“Adaptasi legenda dari Bawang Merah dan Bawang Putih ini adalah adaptasi bebas yang saya balut dalam imajinasi fiksi ilmiah. Saya pun mengganti nama dua tokoh utama menjadi Mira dan Puti. Meskipun diadaptasi secara bebas, agar bisa diterima banyak orang, saya juga akan mengaitkan benang merah kisah yang sama dengan cerita aslinya,” tutupnya. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*