JoSS, SOLO – Seekor kerbau jantan peliharaan Keraton Surakarta, Kyai Joko mati di kandangnya di kawasan Alun-alun Kidul, Selasa (22/1). Kerbau albino (bule) yang merupakan salah satu keturunan pusaka Keraton, Kyai Slamet itu sudah beberapa waktu sakit karena usia tua.
“Untuk ukuran kerbau usianya memang sudah cukup tua, sekitar 30 tahun. Mati tadi sore pukul 15, dan petang ini juga dimakamkan di sekitar kandang,” tutur pawang kerbau Keraton, Herry Sulistyo, kepada JoSS.co.id, Selasa (22/1).
Kyai Joko, kata Herry, sudah beberapa waktu sakit, di antaranya infeksi mulut dan telinga. Tiga hari terakhir, dia bahkan sudah tidak bisa berdiri, hanya terkapar di lantai kadang.
Selama sakit itu, seorang dokter hewan didatangkan untuk mengobati. Dari beberapa kali pengobatan, sebenarnya Joko menunjukkan tanda-tanda membaik.
“Tapi ini tadi malah mati,” ujar Herry.
Untuk mengubur bangkai Kyai Joko, sekelompok abdi dalem Keraton tampak menyiapkan lubang berukuran sekitar 2 x 2 meter di Alun-alun. Di kawasan itu, terdapat makam sejumlah kerbau lainnya, tapi tidak ada yang diberi tanda. Hanya dikubur dan tanahnya diratakan lagi.
Baca juga: BRT Solo Raya Bakal Beroperasi 2020
Meski demikian, bangkai Kyai Joko diperlakukan seperti layaknya manusia yang meninggal dunia. Tubuhnya dibalut kain kafan, posisi di dalam kubur pun dibuat menghadap ke arah kiblat. Prosesi pemakaman itu menjadi perhatian puluhan warga yang menonton dari dekat.
Saat ini, kata Herry, Keraton Surakarta memiliki 16 ekor kerbau keturunan Kyai Slamet. Keseluruhan dalam keadaan sehat, setiap hari mendapat pasokan makan cukup dan kesehatannya terpantau oleh dokter hewan yang dipercaya.
Warga Kota Solo tidak asing dengan keluarga kerbau yang sering dianggap bertuah itu. Setiap hari, kandang kerbau di sudut Alun-alun Kidul cukup banyak dikunjungi warga. Mereka pun tak sayang membeli seikat atau lebih sayuran yang dijual di dekat tempat itu, dan memberikannya kepada kerbau-kerbau kesayangan dinasti Paku Buwono itu.
Dulu kala, ketika Kota Solo belum terlalu ramai, kerbau-kerbau itu sering dibiarkan berkeliaran bebas di dalam kota. Tak jarang mereka masuk permukiman atau pasar. Uniknya, kalau ada kerbau yang memakan sayuran milik pedagang pasar, pemiliknya akan membiarkan karena percaya dia sedang menerima berkah.
Setiap malam tahun baru Jawa 1 Sura, Keraton Surakarta selalu melakukan prosesi kirab pusaka. Prosesi itu tidak akan dimulai sebelum kawanan kerbau trah Kyai Slamet bergerak dan berbaris di depan arak-arakan kirab. Saat itu, ribuan warga akan berkerumun menyaksikan, bahkan masih ada yang memperebutkan kotoran kerbau karena dianggap bisa mendatangkan kesuburan bagi lahan pertanian. (rik/lna)

Leave a Reply