Delegasi Arab Saudi hingga Turki Kumpul di Teheran, Cegah Perang Total Iran-Israel

Delegasi tingkat tinggi Arab Saudi, Pakistan, dan Turki tiba di Teheran untuk mencegah pecahnya perang total antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Sebuah layar menampilkan gambar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan saingan utamanya, kandidat oposisi Gadi Eisenkot, yang merupakan pemimpin partai Yashar ("Lurus"). Gambar tersebut disorot dalam kampanye untuk Eisenkot menjelang pemilihan umum Israel pada hari Minggu, 25 Oktober 2026, di Tel Aviv, Israel. (AP Photo/David Goldman)

1. Misi Diplomasi Darurat di Teheran

Para pejabat tinggi dari Arab Saudi, Pakistan, serta Turki sengaja mendatangi Teheran pada hari Senin. Mereka menggelar pertemuan penting guna meredakan ketegangan sekaligus mencegah pecahnya kembali perang antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.
Delegasi penting tersebut mencakup:
  • Menteri Pertahanan Arab Saudi: Pangeran Khalid bin Salman.
  • Panglima Militer Pakistan: Jenderal Asim Munir.
  • Kepala Intelijen Turki.
Para pejabat regional mengungkapkan bahwa delegasi ini aktif berupaya mendorong kesepakatan antara Teheran dan Washington di tengah ancaman eskalasi militer menjelang pemilu di Israel dan Amerika Serikat.

2. Isu Yaman dan Houthi Ikut Dibahas

Selain membahas konflik utama, agenda pertemuan itu turut mencakup perang di Yaman serta serangan milisi Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi.
Terlebih lagi, pihak Arab Saudi mengeluarkan pernyataan resmi bahwa mereka menyelenggarakan kunjungan ini untuk mencari “ways to de-escalate tensions, enhance regional security and promote its stability.”
Meskipun demikian, Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa Teheran tidak menutup pintu diplomasi. Namun demikian, ia menilai Amerika Serikat masih bersikap kaku karena terus mengajukan tuntutan sepihak. Selanjutnya, Baghaei menegaskan bahwa pihak AS kerap menggunakan frasa “complete surrender,” yang menurut pandangan Iran tidak akan pernah diterima oleh siapapun.

3. Ancaman Eskalasi dari Israel

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali mengeluarkan peringatan keras pada hari Minggu. Ia secara tegas menyatakan bahwa Iran atau proksinya berpotensi meluncurkan serangan demi mengganggu jalannya pemilu.
Dalam pernyataan videonya, Netanyahu menegaskan:
“The (military) is ready both to defend and to strike,” serta menambahkan, “You will suffer disproportionate blows far greater than you can imagine.”
Bahkan, stasiun televisi Channel 12 Israel melaporkan bahwa Netanyahu sempat berselisih dengan kepala staf militer terkait instruksi untuk meluncurkan sebuah “action” yang menimbulkan kekhawatiran memicu perang terbuka dengan Iran. Kendati demikian, Netanyahu langsung menepis laporan tersebut dan menyebutnya sebagai kabar bohong.

4. Memanasnya Konflik di Yaman

Situasi regional semakin pelik akibat perluasan front pertempuran di Yaman. Kelompok Houthi terus meningkatkan intensitas serangan rudal balistik ke wilayah Arab Saudi sebagai bentuk perlawanan terhadap koalisi pendukung pemerintah sah Yaman.
Sementara itu, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengeklaim bahwa kelompoknya baru saja menghujani fasilitas militer Saudi di Provinsi Aden dan Lahj menggunakan rudal. Meskipun demikian, pihak Associated Press menyatakan bahwa mereka belum mampu memverifikasi kebenaran klaim tersebut secara independen.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*