
JoSS, JAKARTA – Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi meminta masyarakat dan pemerintah Indonesia mewaspadai mutasi baru dari Covid-19 varian Mu, meski hingga kini belum masuk ke Indonesia.
Nadia mengatakan Indonesia sudah memiliki protokol sesuai dengan surat edaran Satgas nomor 8 tahun 2021 tentang pelaku perjalanan internasional, yang dapat menjadi filter awal penyebaran. Beberapa syarat seperti kewajiban membawa surat tes PCR, pemeriksaan PCR ulang di Indonesia, hingga karantina minimal 8 hari, diharapkan dapat mencegah virus baru masuk.
“Tentunya kita tahu pemeriksaan whole genome sequencing kan harus dilakukan pada pelaku perjalanan luar negeri. Jadi kita monitoring hal tersebut lewat kondisi tersebut,” kata Nadia, seperti dilansir dari tempo.co.
Menurut Nadia, Varian Mu digolongkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai bagian dari variant of interest pada 30 Agustus lalu. Hal ini berarti varian ini masih harus dikaji lebih lanjut dampaknya di masyarakat.
“Apakah betul secara luas menimbulkan peningkatan penularan, kecepatan penularannya meningkat, atau juga mempengaruhi efikasi dari vaksin,” kata dia.
Varian ini berbeda dengan varian Delta yang dikategorikan ke dalam variant of concern. Meski Varian Mu memiliki beberapa kesamaan dengan Varian Beta, namun Nadia mengatakan varian baru itu belum dapat digolongkan ke dalam tahap yang lebih berbahaya.
“Walaupun sudah dilaporkan di 39 negara, Varian Mu ini secara global terjadi penurunan. Khusus di negara Kolombia dan Ekuador, itu prevalensinya kan stabil tetap tinggi. Makanya digolongkan sebagai variant of interest,” kata Nadia.
Mengutip The Guardian, WHO menambahkan Mu atau B.1.621 sebagai varian yang perlu diperhatikan pada pada 30 Agustus 2021. Sementara Varian Mu pertama kali diidentifikasi di Kolombia pada Januari 2021.
“Sejak itu, kasus sporadis dan beberapa wabah yang lebih besar telah dicatat di seluruh dunia. Di luar Amerika Selatan, kasus telah dilaporkan di Inggris, Eropa, Amerika Serikat, dan Hong Kong,” demikian pernyataan WHO.
“Sementara varian tersebut membuat kurang dari 0,1 persen dari infeksi Covid-19 secara global, itu mungkin mulai berkembang di Kolombia dan Ekuador, di mana masing-masing menyumbang 39 persen dan 13 persen dari kasus Covid-19,” lanjut WHO.
Baca juga: Ini Perbedaan Varian Covid-19 Delta Dengan Delta Plus
Sebanyak 32 kasus varian Mu di Inggris, di mana pola infeksi menunjukkan bahwa varian Mu dibawa oleh para pelancong. Dalam laporan Public Health England (PHE) pada bulan Juli mengatakan, sebagian besar kasus Mu yang ditemukan di London terjadi pada mereka yang berusia 20-an.
Beberapa dari mereka yang dites positif Mu telah menerima satu atau dua dosis vaksin Covid. Varian Mu, kata WHO, memiliki kemampuan yang menunjukkan dirinya bisa lebih tahan terhadap vaksin, seperti halnya varian Beta yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan.
“Varian Mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan. Varian tersebut setidaknya sama resistennya dengan varian Beta terhadap kekebalan yang timbul dari vaksinasi,” kata WHO.
Namun, hal itu, menurut WHO dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menemukan bukti-bukti baru apakah varian Mu memang benar kebal terhadap vaksin atau tidak.
Selain itu, dalam CNBC Internasional juga WHO menyebut, masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut apakah varian Mu lebih menular, lebih mematikan atau lebih membutuhkan perawatan dibandingkan varian lainnya atau virus Covid-19 yang pertama kali ditemukan.
“Strain Mu membutuhkan studi lebih lanjut untuk memastikan apakah itu akan terbukti lebih menular, lebih mematikan atau lebih resisten terhadap vaksin dan perawatan saat ini,” jelas WHO. Hingga saat ini, belum ada juga bukti yang menunjukkan bahwa Mu lebih berbahaya atau lebih menular daripada varian Delta.
Tapi, satu hal harus yang harus dikhawatirkan dari varian ini adalah memiliki mutasi genetik P681H. Dimana mutasi tersebut juga ditemukan pada varian Alpha yang pertama kali terdeteksi di Kent, Inggris, dan telah dikaitkan dengan transmisi yang lebih cepat. Mutasi lain, termasuk E484K dan K417N, dapat membantu virus menghindari pertahanan kekebalan. (lna)

Leave a Reply