
JoSS, JAKARTA – Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan mengatakan kasus varian Covid-19 Delta Plus sudah masuk di Indonesia. Saat ini tercatat sudah ditemukan 3 kasus penularan varian tersebut.
Dia menjelaskan, saat ini ada 3 kasus Covid-19 akibat varian delta plus yaitu 2 kasus di Jambi dan 1 kasus di Sulawesi Barat.
Nadia mengatakan bahwa secara umum, yang membedakan varian ini dengan varian Delta sebelumnya berada pada mutasi proteinnya, dan disebutkan tingkat kemampuan penularannya masih sama dengan yang sebelumnya.
Dilansir dari bisnis.com, varian baru yang diberi label Delta Plus ini meskipun belum secara resmi oleh WHO, mutasi pada varian ini dikaitkan dengan peningkatan pelepasan kekebalan.
Adapun, meski merupakan mutasi dari varian Delta, varian Delta Plus belum begitu mengkhawatirkan. Namun, varian Delta Plus ini harus tetap diwaspadai karna virus ini dapat berubah-ubah.
Pasalnya, varian Delta Plus juga diduga dapat menyebabkan pemberian vaksin kedalam tubuh menjadi kurang efektif, seperti dikatakan oleh Ahli Virologi di India Shahid Jameel.
Sampai saat ini, Varian Delta Plus sendiri telah terdeteksi di sembilan negara, antara lain Inggris, AS, China, dan Jepang.
Sementara itu, pimpinan Teknis Covid-19 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Maria Van Kerkhove mengingatkan varian Delta bukalah yang terakhir. Varian Delta juga dapat menginfeksi tiap individu lebih mudah dan menular dibanding varian lain.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh WHO di akun Twitter @WHO pada Selasa (27/7/2021), Maria mengatakan pihaknya masih mencoba untuk lebih memahami mengapa Covid-19 varian Delta lebih menular.
“Kami belum memiliki gambaran lengkapnya. Kita tahu bahwa beberapa mutasi yang diidentifikasi dalam varian ini, misalnya, akan membuat virus lebih mudah menempel pada sel, dan itu menginfeksi orang dengan lebih mudah,” kata Maria seperti dikutip Senin (19/7/2021).
Meskipun varian Delta lebih menular, dia mengatakan tidak terjadi peningkatan rumah sakit, keparahan, dan kematian akibat varian asal India ini.
Baca juga: Jumlah Kematian Global Akibat Covid-19 Tembus 4 Juta, Varian Delta Mendominasi
“Artinya jumlah orang yang terinfeksi Delta tidak lebih sering mati dibandingkan varian lainnya,” jelasnya.
Meski demikian, Maria mengkhawatirkan pada perubahan virus akan terus berubah dan membuat virus tersebut semakin menjadi lebih parah.
“Yang kita khawatirkan adalah perubahannya. Sejauh ini diagnostik kami berfungsi, kesehatan masyarakat dan pembatasan sosial berhasil,”
Maria mengungkapkan pembatasan sosial harus diperketat untuk waktu yang lebih lama. Namun, pembatasan ini bukan diharuskan untuk melakukan lockdown.
Di sisi lain, Maria mengatakan bahwa vaksin yang ada juga efektif terhadap varian Delta dalam mengurangi keparahan dan angka kematian.
“Varian Delta bukan menjadi varian terakhir. Ini tidak bermaksud untuk menakut-nakuti, itu hanya dimaksudkan untuk mengatakan ada banyak yang bisa kita lakukan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dia mengingatkan agar masyarakat harus mempunyai peralatan yang membuat diri tetap aman karena semua intervensi yang berbeda akan menambah lapisan perlindungan. (lna)

Leave a Reply