BMKG memperingatkan cuaca ekstrem, hujan lebat dan panas terik awal Mei 2026. Cek daerah siaga dan tips aman beraktivitas.
JOSS.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan potensi hujan lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, padahal secara umum sudah mulai memasuki musim kemarau. BMKG mencatat hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat terjadi pada 27–29 April 2026 di berbagai daerah Indonesia.
“Curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat teramati di Sulawesi Selatan (118,4 mm/hari), Maluku (99,0 mm/hari), Bali (90,3 mm/hari), Gorontalo (81,2 mm/hari), Papua (76,8 mm/hari), Papua Barat (63,6 mm/hari), Kalimantan Tengah (57,7 mm/hari), Sulawesi Tenggara (57,5 mm/hari), Jawa Barat (57,2 mm/hari), dan Bengkulu (56,4 mm/hari),” kata BMKG dikutip dari keterangan di situs resmi, Kamis (30/4/2026).
Bagi pembaca rubrik travel, kondisi ini berarti agenda jalan‑jalan, eksplor kuliner, hingga liburan ke pantai atau pegunungan perlu menyesuaikan dengan peluang hujan deras dan suhu siang yang menyengat di sejumlah kota tujuan.
Penyebab Hujan Lebat dan Panas Terik
Kondisi cuaca yang terbilang kontras ini dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby‑Gravity (MRG) yang melintasi sebagian wilayah Indonesia. Gelombang‑gelombang ini memodulasi proses konvektif dalam skala luas sehingga mendorong pertumbuhan awan hujan di berbagai daerah.
Selain itu, fenomena Madden‑Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 2 ikut berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di wilayah barat Indonesia, khususnya Pesisir Barat Sumatra, dan juga aktif melintasi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, serta Sulawesi Tenggara. “Faktor lokal seperti pemanasan permukaan yang cukup kuat pada siang hari serta kelembapan udara yang masih relatif tinggi juga berkontribusi dalam mendukung terbentuknya awan-awan hujan,” lanjut BMKG.
Di saat bersamaan, suhu maksimum harian yang relatif tinggi masih teramati di beberapa wilayah, seperti Sumatra Utara (36,8°C), Aceh (36,6°C), Banten (36,2°C), Sulawesi Tengah (35,9°C), Kalimantan Tengah (35,8°C), dan Bengkulu (35,8°C). “Kondisi tersebut dipengaruhi oleh intensitas radiasi matahari pada siang hari yang masih cukup tinggi, serta mulai menguatnya monsun Australia. Monsun ini biasa ditandai dengan dominasi angin timuran, yang membawa massa udara relatif lebih kering,” terangnya.
Dampaknya, tutupan awan pada pagi hingga siang hari berkurang sehingga radiasi matahari lebih optimal mencapai permukaan dan mendorong kenaikan suhu udara. Situasi inilah yang membuat siang hari terasa sangat panas, namun sore hingga malam bisa tiba‑tiba turun hujan deras di beberapa kota tujuan wisata.
Potensi Cuaca Sepekan: 1–7 Mei 2026
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprediksi Monsun Australia akan menguat, yang ditandai dengan pola angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini membawa massa udara relatif kering dari Australia dan menjadi tanda peralihan dari musim hujan ke musim kemarau di sejumlah daerah.
Pola peralihan musim terlihat dari perbedaan suhu yang cukup besar antara pagi dan siang hari. “Pada pagi hingga siang hari, radiasi matahari yang intens menyebabkan proses konveksi yang tinggi, yang kemudian memicu pembentukan hujan lokal pada sore hingga malam hari. Hujan yang terjadi biasanya tidak merata, dengan intensitas sedang hingga lebat dan durasi yang singkat, serta berpotensi disertai kilat dan angin kencang. Kombinasi radiasi matahari yang tinggi dan kelembaban udara yang cukup dapat menyebabkan suhu yang relatif panas pada pagi hingga siang hari, diikuti dengan kondisi hujan yang signifikan pada sore hingga malam hari,” jelasnya.
Bagi wisatawan, pola ini umum terjadi di masa peralihan: pagi cocok untuk aktivitas luar ruang seperti city tour, jelajah wisata heritage, dan foto‑foto, sementara sore hari perlu antisipasi hujan lokal dan potensi kilat maupun angin kencang.
Daerah Siaga Hujan Lebat: Awal Mei 2026
Berikut ringkasan wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat menurut BMKG pada periode 1–7 Mei 2026.[1][2]
Periode 1–4 Mei 2026
1. Siaga hujan intensitas sedang–lebat:
Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua, Papua Selatan.
2. Siaga hujan intensitas sangat lebat:
Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Timur, Papua Tengah, Papua Pegunungan.
Periode 4–7 Mei 2026
1. Siaga hujan intensitas sedang–lebat:
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Selatan.
2. Siaga hujan intensitas sangat lebat:
Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan.
Bagi pelancong yang hendak ke kota‑kota di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua, daftar wilayah siaga ini penting untuk menyusun ulang jadwal wisata outdoor, memilih jam perjalanan, dan menyiapkan rencana alternatif kegiatan di dalam ruangan.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat dan Wisatawan
BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem panas sepekan ke depan. “Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya,” ungkap BMKG.
Selain itu, karena beberapa daerah berpotensi masih mengalami hujan lebat, BMKG juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan menyiapkan berbagai kebutuhan untuk menghindari dampak dari hujan. “Kami juga mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Pengendara kendaraan bermotor juga perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan,” tutupnya.

Leave a Reply