
JoSS, KOREA – Korea Utara dan Korea Selatan sepakat melakukan demiliterisasi dengan melakukan pelucutan persenjataan di desa Panmunjom yang merupakan perbatasan kedua negara tersebut secara bertahap.
Hal itu dilakukan setelah pertemuan kedua negara yang difasilitasi oleh PBB yang dipimpin Amerika Serikat (AS), telah bersepakat untuk melucuti persenjataan di desa perbatasan dari kedua belah secara bertahap. Langkah ini merupakan sinyal perdamaian bakal muncul di dua negeri bersaudara di Semenanjung Korea itu.
Kementerian Pertahanan Korut mengatakan dalam sebuah pernyataan, mengacu pada perbincangan trilatetal pada Senin, telah disepakati penarikan pasukan dan pelucutan senjata dari pos-pos di Joint Security Area (JSA), atau lebih dikenal dengan desa perbatasan Panmunjom.
Masing-masing pihak akan menuangkan tiga langkah verifikasi dalam dua hari ke depan, tulis pernyataan itu.
Langkah yang sangat simbolis ini sangat penting di tengah kegagalan pembicaraan nuklir yang dikeluhkan AS selama ini.
Persetujuan dari Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC) yang dipimpin AS sangat penting untuk menjawab kesangsian AS tentang langkah perbaikan hubungan antar-Korea. Kesepakatan ini juga akan berpengaruh terhadap blokade pengiriman barang melintasi perbatasan Korsel.
JSA adalah satu-satunya garis sepanjang 250 km yang memisahkan kedua Korea, di mana kedua pasukan militer masing-masing negara saling berhadap-hadapan setiap harinya.
Baca juga: Konstruksi Jembatan Kalikutho Selesai Ruas Tol Semarang-Batang Siap Beroperasi
Seperti dilansir dari The Guradian, daerah ini punya kisah dramatis ketika Pasukan Korsel melakukan operasi heroik menolong seorang tentara Korut yang membelot dan ditembak oleh kesatuannya sendiri.
Garis batas itu menjadi zona netral yang disepakati sampai “insiden pembunuhan kapak” pada 1976, ketika tentara Korea Utara menyerang sekelompok pekerja yang mencoba menebang pohon di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ), menewaskan dua perwira tentara AS.
Korsel dan Korut yang secara teknis berperang, bersepakat mengurangi ketegangan militer di perbatasan mereka pada pertemuan antara Presiden Korsel Moon Jae-in dan pemimpin tertinggi Korut Kim Jong-un, di Pyongyang pada September lalu.
Bulan ini, kedua belah pihak mulai menghapus ranjau darat di JSA – yang sekarang sering digunakan untuk pembicaraan antara kedua Korea – sebagai bagian dari kesepakatan. Pertemuan pada Senin (22/10/2018) sekaligus untuk mengonfirmasi operasi itu telah dijalankan. Operasi yang berlangsung selama 20 hari itu hanya memindahkan sebagian kecil dari ranjau darat yang dipasang di zona demiliterisasi (DMZ).
Pertemuan tingkat tinggi pada September merupakan pertemuan ketiga kedua pemimpin Korea, sebagai pendekatan baru penyelesaian konflik di semenanjung Korea.
Moon telah menjalani keterlibatan lebih jauh dengan Korut yang terisolasi untuk mendorongnya menuju denuklirisasi.
Pembicaraan Senin adalah pertemuan trilateral yang terdiri atas dua Korea dan Komando PBB, yang mempertahankan yurisdiksi atas setengah bagian selatan JSA. (lna)

Leave a Reply