
JoSS, SOLO – Kalangan sopir angkutan, petani dan nelayan mengaku kesulitan mencari Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) di wilayah Solo Raya. Kelangkaan itu mulai dirasakan sejak awal Agustus lalu.
Kondisi tersebut menyebabkan sopir angkutan, para petani dan nelayan tidak dapat menjalankan usahanya karena solar bersubsidi yang biasanya dibeli dengan harga Rp 5.000 per liter untuk BBM mesin diesel, mulai langka.
Keterangan yang dihimpun JoSS.co.id, Senin (3/9) menyebutkan BBM bahan bakar minyak jenis solar di beberapa SPBU di wilayah Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen dan Klaten langka di pasaran. Kelangkaan BBM jenis solar ini mulai dirasakan sejak awal bulan Agustus lalu.
Dari data konsumsi keseharian SPBU yang di peroleh JoSS.co.id rata-rata SPBU menjual tiga kilo liter per hari. Sedangkan jatah yang kini diberikan oleh Pertamina untuk SPBU hanya delapan kilo liter untuk per 3-4 hari.
“Pihak Pertamina memberitahukan pasokan pengiriman solar berkurang dari biasanya. Jika jatah biasannya sebanyak delapan ton solar per SPBU, namun hari ini belum diketahui berapa jatah tiap SPBU yang akan diberikan Pertamina,” papar salah seorang pengelola SPBU bernama Fachruddin kepada wartawan, Senin (3/9).
Sejumlah SPBU yang kehabisan solar namun belum dipasok lagi oleh Pertamina, diantaranya SPBU Tempel, SPBU Sekarpace, dan SPBU Jalan Ir Sutami dekat Tiongting, Solo. Selain itu ada dua SPBU yaitu SPBU Palur dan SPBU Pucangsawit juga kehabisan BBM jenis solar.
Baca juga : PT Angkasa Pura I Targetkan Bandara Solo Jadi Lima Besar Terbaik Dunia
Beberapa pengelola SPBU menduga Pertamina akan menggunakan strategi yang sama diterapkan ketika akan menghilangkan BBM jenis premium di pasaran beberapa waktu lalu.
“Kami dilarang pasang papan pengumuman solar habis. Kalau hal ini dibiarkan kasihan sopir truk, nelayan dan petani. Mereka tentu berat bila disuruh beralih ke solar industri jenis dexlite seharga Rp 9.000 per liter atau solar jenis pertamina dex yang harganya Rp 10.500/liter.
Kelangkaan pasokan solar ke SPBU yang berimbas pada dibatasinya penjualan solar di SPBU, dibenarkan oleh, Fahrudin, mandor dari SPBU Tempel nomer 4457509. Menurut Fahrudin, saat ini posisi solar di SPBU miliknya sudah tidak ada. Diakui, mulai 1 September, sistem kitir (penjatahan) mulai diberlakukan.
“Pembatasan solar sendiri mulai dilakukan pada pertengahan Agustus. Dan dijatah mulai awal September,” ujarnya.
Secara terpisah, Area Manager Communication Relation Jawa Bagian Tengah (JBT) dan Daerah Istimewa Jogyakarta (DIY), Andar Titi Lestari kepada wartawan, Senin (3/9) membantah kalau ada kelangkaan solar. “Pertamina menjamin pasokan solar bersubsidi sesuai dengan kebutuhan rata-rata normal supply kepada konsumen pengguna melalui SPBU di seluruh Solo Raya”, ujarnya.
Dipaparkan Andar, kebutuhan rata-rata normal bulan Januari hingga Mei sebesar 604,9 kilo liter (kl). Pada bulan Juli 2018 ada peningkatan konsumsi yang sangat tinggi yaitu mencapai 760,5 kl.
“Jadi tidak ada pembatasan, lanjut Andar, tapi pertamina menyediakan solar sesuai dengan normalnya pembelian di bulan januari hingga juni 2018 dan tidak ada solar habis, karena kami tetap menyediakan dexlite dan pertamina dex” , ujar Andar Titi Lestari. (ton/lna).

Leave a Reply