Turun Temurun Semangat Perayaan Kemerdekaan RI

kemerdekaan ri
Lomba pecah air anak-anak di perayaan HUT RI untuk menularkan semangat para pejuang merebut kemerdekaan | Foto : joss.co.id/joy

JoSS, SEMARANG – Merayakan kemerdekaan RI di masa penjajahan bukan hal mudah. Kala itu, mayoritas masyarakat Indonesia mengibarkan Merah Putih dengan taruhan nyawa. Di bawah ancaman senjata tentara Sekutu, banyak perayaan yang dilakukan sembunyi, bahkan di medan gerilya. Seperti apa ?

Pegiat sejarah, Rukardi mensinyalir perayaan kemerdekaan seperti upacara pengibaran bendera, karnaval atau arak-arakan dan bentuk-bentuk lain perayaan yang saat ini masif terjadi setiap 17 Agustus, sangat dimungkinkan meniru perayaan serupa yang dilakukan bangsa penjajah. 350 tahun dibawah cengkraman Belanda sedikit banyak membawa pengaruh tradisi kolonial ke warga pribumi.

“Bentuk perayaan 17 Agustus sangat mungkin mengadaptasi perayaan masa kolonial, terutama ulang tahun Ratu dan hari kemerdekaan Belanda. Namun dari sisi semangat, keduanya saling berlawanan,” ungkap dia di Semarang, Rabu (15/8).

Rukardi menyampaikan kegembiraan atas maklumat kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dilakukan oleh sekelompok orang dengan arak-arakan di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Hari itu, 18 Agustus 1945 atau sehari setelah proklamasi kemerdekaan dideklarasikan Soekarno – Hatta. Dipimpin seorang pemuda ratusan warga membentuk barisan ala kadarnya. Ia membawa tongkat yang ujungnya terikat sang Merah Putih. Beberapa meter di belakang pemuda tersebut, sebuah kain bertuliskan ‘Sekali merdeka, tetap merdeka !’ terbentang.

Tiba di halaman rumah nomor 56, arak-arakan disambut dengan sikap hormat oleh seorang lelaki berpeci hitam. Ia lah sang Proklamator, Soekarno, yang beberapa jam sebelumya ditunjuk menjadi Presiden Republik Indonesia. “Kejadian itu direkam Alex atau Frans Mendur pada Sabtu, 18 Agustus 1945. Arak-arakan itu bentuk perayaaan kemerdekaan Indonesia,” jelas dia.

Kuatnya pengaruh balatentara Sekutu kala itu, terlebih setelah Jepang menyerah pada 14 Agustus 1945, membuat rakyat Indonesia belum secara vulgar meluapkan kegembiraan kemerdekaan. “Namun ada bentuk lain perayaan kemerdekaan yang dipelopori awak media beberapa bulan setelah proklamasi. Lewat karya jurnalistiknya, mereka menerbitkan edisi khusus bertajuk ‘Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia’ pada 17 Februari 1946,” sambung dia.

Baca juga : RI Beri NIK Pada Warganya Yang Tinggal Di Jerman

Bagi Rukardi, peringatan itu cukup menarik lantaran waktu peringatan tidak dalam kelipatan tahun, tapi hitungan enam bulan sesuai tema yang diusung. Adalah hasil kreasi sekaligus berani yang ditunjukkan oleh para wartawan harian Merdeka. B.M. Diah, Rosihan Anwar, R.M. Winarno, Moh. Soepardi, Soetomo, Darmawidjaja, Mendur bersaudara dan wartawan pejuang lain seperti Adinegoro, Manai Sophiaan dan Parada Harahap.

“Keistimewaan dari karya jurnalistik itu adalah adanya kata sambutan dan tulisan tokoh-tokoh republik terkemuka seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Pakualam VIII, Paku Buwono XII, Mangkunegoro VIII, Mr. Kasman Singodimedjo, dan sejumlah pejabat republik lainnya,”

Pun demikian dengan karya foto yang tersaji di edisi tersebut. Ada foto diri para pemimpin revolusi, raja-raja Jawa penyokong republik, serta anggota kabinet pertama dan kedua. Foto-foto dokumentasi peristiwa penting selama enam bulan terakhir, termasuk foto detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada 17 Agustus 1945.

“Itu karya Soemarto Frans Mendur. Foto-foto itu diselamatkan Frans dari tentara Jepang dengan cara ditimbun di dalam tanah, di halaman belakang kantor redaksi harian Asia Raja, tempatnya bekerja. Foto-foto Frans menjadi bukti sahih bahwa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia benar-benar ada, bukan isapan jempol belaka,” beber Rukardi.

Karya jurnalistik para pewarta pejuang ini yang makin menggaungkan semangat Proklamasi ke seluruh negeri. Namun Rukardi mencatat, kurun waktu 1945 sampai 1949, belum seluruh wilayah NKRI berani melakukan perayaan kemerdekaan terang-terangan.

“Setahun kemudian, baru wilayah yang menjadi kantong Republik seperti Yogyakarta dan Kedu yang berani menggelar perayaan setahun kemerdekaan dengan melibatkan massa dalam jumlah besar,” terang dia.

Baca juga : Batik Hitam Putih Motif Unik Untuk Hari Istimewa Kemerdekaan RI Ke 73

Penelusuran Rukardi, Majalah Pantja Raja, 1 September 1946, seperti dikutip Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia II, menggambarkan peringatan pertama kemerdekaan dirayakan dengan meriah oleh segenap lapisan dan golongan penduduk Indonesia. Rumah-rumah dan gedung dihias dengan janur kuning dan rupa-rupa dedaunan. Di luar daerah kantong Republik, perayaan dilakukan lebih sederhana akibat larangan Tentara Sekutu.

kemerdekaan ri
Lomba miru (membuat lipatan) di kain batik yang dilakukan warga Perumahan Ketileng Indah RT 4 RW 13, Sendangmulyo, Tembalang, Kota Semarang. Lomba tersebut dalam rangka merayakan HUT RI ke-7 | Foto : joss.co.id/joy

Di Yogyakarta, satu tahun Republik Indonesia diperingati besar-besaran. Ketua panitia, yang juga Sekretaris Negara Mr. A.G. Pringgodigdo mempersiapkan rangkaian acara dengan seksama. Selain upacara, juga digelar parade tentara dan laskar di Alun-alun Utara, serta resepsi di Istana Negara. Upacara dihadiri Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Pakualam VIII, Paku Buwono XII, Mangkunegara VIII, Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan sekitar 500 tamu undangan.

“Seperti dilaporkan Kedaulatan Rakjat, tepat pada detik-detik proklamasi, sirine dibunyikan selama satu menit untuk mengheningkan cipta. Sore hari ribuan orang berkumpul di Alun-alun Utara untuk melihat parade,” papar dia.

Masih di Yogyakarta, peringatan satu tahun RI juga ditandai dengan peresmian Bank Negara Indonesia, pembukaan hubungan radio telefoni antara Jawa dengan Sumatera, peresmian jembatan, serta pemberian santunan kepada fakir miskin dan para pejuang di front terdepan. Perayaan makin meriah dengan adanya pameran pertanian dan perburuhan di kantor Gasbi, pemutaran film peringatan proklamasi kemerdekaan di gedung bioskop Indra dan pameran kedirgantaraan oleh Angkatan Udara di Hotel Tugu.

Di Kedu, perayaan satu tahun kemerdekaan juga dilakukan dengan kegiatan sejenis. Perlombaan olahraga, pameran lukisan, pemutaran film, pentas sandiwara, nyanyian, ketoprak dan lain-lain. “Saat itu, pemerintah republik setempat bersama warga juga membangun gapura-gapura di penjuru kota. Mereka juga memperbaiki rumah-rumah, warung, dan hotel,” kata dia.

Lantas bagaimana perayaan pertama HUT RI di luar kantong Republik ?. Rukardi, menyebut berlangsung dalam suasana mencekam.

Baca juga : Asik PT KAI Berikan Harga Khusus Kemerdekaan Catat Tanggalnya

Di Jakarta misalnya, polisi dan tentara Inggris berusaha menghalangi orang-orang yang hendak mengikuti perayaan di rumah Menteri Luar Negeri Sutan Sjahrir. Namun upaya itu tak berhasil. Warga, termasuk rombongan pelajar putri yang dipimpin Menteri Sosial Maria Ulfah Santoso berhasil masuk. Esoknya, mereka bahkan meresmikan Tugu Peringatan Satoe Tahoen Republik Indonesia di Pegangsaan Timur 56.

Di Kota Semarang, warga tak mau mengambil risiko. Mereka mengibarkan bendera Merah Putih secara sembunyi-sembunyi lantaran takut dengan ancaman tentara Sekutu. Pengakuan Hoeri Prasetyo, mantan anggota Barisan Pemberontak Republik Indonesia (Bapri) dan Angkatan Pelajar Indonesia (API) menguatkan paparan Rukardi.

“Pak Hoeri itu pelaku Pertempuran Lima Hari di Semarang. Beliau menyampaikan, di luar garis demarkasi seperti di Rowosari orang masih umpet-umpetan mengibarkan bendera Merah Putih,” ucap Rukardi.

Sedangkan di Bandung, peringatan dilakukan para gerilyawan di medan pertempuran. Mereka menaikkan bendera merah putih di daerah-daerah yang dikuasai. Untuk menyaingi, pada hari yang sama, Sekutu menggelar peringatan penyerahan Jepang kepada mereka di tengah kota.

Tak hanya di Tanah Air, lanjut Rukardi, peringatan HUT RI pertama juga digelar di New York. Inisiatornya Perserikatan Indonesia yang diketuai John Ando. Dalam perayaan itu, John membacakan surat Sjahrir kepada Presiden Truman. Dalam kesempatan itu, John mengecam tindakan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat yang menyembunyikan surat itu.

Baca juga : Mempelajari Budaya Indonesia, 27 Mahasiswa Mesir dapat Beasiswa RI

“Kebebasan (perayaan kemerdekaan) baru terjadi pascapenyerahan kedaulatan RI pada 1949. Seperti keran yang terbuka setelah sekian lama mampet, masyarakat memperingati HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1950 dengan gegap-gempita,” kata dia.

Di Semarang, tambah Rukardi, perayaan dilakukan selama empat hari, mulai tanggal 16 hingga 19 Agustus, dengan agenda acara yang padat. “Suara Merdeka edisi 16 Agustus 1950 menyajikan agenda tersebut secara lengkap, mulai dari rapat umum, pemutaran film, doa dan ibadah bersama, renungan, aneka lomba, pentas seni, pemberian santunan, pawai, resepsi, peresmian taman makam pahlawan, penerbangan pesawat Garuda Indonesia di langit kota, hingga pemakaman kembali 17 jenazah pelaku Pertempuran Lima Hari di Semarang,” papar dia.

Perayaan dalam bentuk rapat umum diawali uraian kisah perjuangan kemerdekaan selama lima tahun. Juga ada sambutan perwakilan pemerintah, buruh, tani, pemuda, dan wanita. Pukul 9.50 WIB, sirine, beduk, lonceng, peluit kereta api dibunyikan untuk mengenang detik-detik proklamasi. Dilanjutkan pembacaan teks proklamasi, mengheningkan cipta, dan pengibaran bendera diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Perlombaan meliputi sepakbola ketentaraan seluruh Jawa Tengah digelar di Stadion. Lomba dayung dan layar di kawasan pelabuhan. Perayaan kemerdekaan juga diisi dengan lomba estafet, mengarang, dan menggambar antarsiswa sekolah lanjutan. Ada juga lomba menghias etalase toko, kendaraan, dan gapura. Tak kalah seru lomba pukul bantal di atas bambu yang dibentangkan di tengah Kali Semarang.

“Dan perayaan kala itu juga sudah menggambarkan keragaman dan kerukunan masyarakat Semarang. Banyak warga keturunan Tionghoa turut langsung di pawai yang digelar Jalan Bodjongstraat, sekarang bernama Jalan Pemuda. Mereka memainkan kesenian liong samsi dan barongsai,” pungkas Rukardi. (joy/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*