Pasokan Melimpah Harga Kelapa Di Jogja Anjlok Hingga Rp800 per Butir

harga kelapa
Warga tengah mengeluarkan buah kelapa dari batoknya untuk dikeringkan menjadi kopra, hal ini dilakukan karena harga kelapa anjlok hingga Rp800 untuk kualitas super | Foto : joss.co.id/sugondo

JoSS, JOGJA – Harga kelapa di Yogyakarta dalam beberapa bulan terakhir anjlok hingga Rp800 per butir, kondisi ini ditengarai akibat melimpahnya stok komoditas tersebut di pasaran. Sebagian besar berasal dari pulau-pulau di luar Jawa seperti Sulawesi dan Kalimantan.

Di Pasar Gawok Wates Yogyakarta, harga kelapa kualitas sedang bahkan hanya Rp500 per butir. Seorang pengepul kelapa di pasar tersebut Sumarjo menjelaskan pasokan kelapa dari luar Jawa begitu banyak sehingga harga kelapa lokal tertekan.

Menurut dia anjloknya harga kelapa di pasaran ini membuat para petani lokal enggan memasok hasil perkebunan kelapa karena tidak mencukupi untuk biaya upah pemetik kelapa. “Kondisi ini justru memberika peluang bagi kelapa dari luar Jawa untuk menguasai pangsa pasar komoditas ini. Sehingga harga kelapa semakin jatuh,” katanya kepada JoSS.co.id, Kamis (23/8)

Dia menambahkan, tak hanya wilayah Jogja yang mengalami gempuran kelapa dari luar Jawa, bahkan daerah Jawa Barat dan Jakarta juga telah dipenuhi oleh kelapa dari Kalimantan dan Sulawesi. Padahal ke dua daerah tersebit sebelumnya merupakan daerah pasokan kelapa dari Kulonprogo.

Sumarjo menuturkan pengepul di Jakarta dan Jawa Barat memilih membeli kelapa dari luar Jawa karena lebih murah harganya. “Harga kelapa di tingkat petani Kalimantan dan Sulawesi hanya Rp 500 perbutir, sementara harga petani kita sudah diatas Rp 800-Rp1.000 perbutir,”ucap Sumarjo

Dia menilai, anjloknya harga kelapa ini bukan soal kualitas, tetapi lebih pada melimpahnya pasokan dari daerah lain. Di saat kemarau panjang, di Jawa produksi kelapa menyusut, sebaliknya di luar Jawa pada saat-saat ini justru melimpah.

Baca juga : Sapi Di Kawasan TPA Putri Cempa Solo Terindikasi Kandungan Logam Berat

Seorang petani kelapa dari Kulonprogo Rubijo mengatakan akibat terus merosotnya harga komoditas kelapa ini, banyak petani memilih tidak memanen dan membiarkan rontok, lalu menjadikannya kopra.

“Upah memetik kelapa lebih mahal, sehari Rp50.000/orang, kalau mereka bisa memetik kelapa 1.000 butir maka kami hanya mendapatkan Rp800.000, sementara untuk memanen 300 pohon kelapa dibutuhkan 5 orang pemetik,” ujarnya.

Dia menilai, harga kelapa saat ini bahkan yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. Padahal ketika harga mencapai Rp.5000 per butir, Rubijo yang memiliki 300 batang pohon kelapa bisa mengantongi penghasilan sampai Rp5 juta sekali panen.

Harga komoditi kelapa sendiri mulai anjlok sejak empat bulan lalu. Yakni merosot tajam dari harga Rp. 1.500 per butir, merosot ke tingkat Rp. 1000 rupiah, dan kini hanya Rp. 800 per butih, untuk kelapa kelas super.

Sebelumnya kelapa memang cukup menjadi andalan bagi kebanyakan petani, karena harga kelapa sempat mencapai Rp. 7000 per butir, bahkan sekitar tahun 2005 harga kelapa pernah mencapai Rp. 11.000 per butir untuk kelas besar super, dan Rp. 8000 untuk kelapa kelas dua atau kelas B.

Pedagang kelapa Kemijo mengungkapkan, kelapa yang tidak laku kemudian diolah menjadi kopra untuk menyiasati agat tidak terlalu merugi. Harga kopra atau kelapa kering sebesar Rp3.000 per kilogram. Harga tersebut masih dikurangi upah untuk buruh cungkil kelapa.

“Sekilo kelapa kering itu diperoleh dari 4-5 butir kelapa. Kami masih harus mengeluarkan biaya tenaga cukil (memisahkan bagian daging dengan tempurung kelapa-red) dan pengeringan,” ujar Kemijo. (gdo/lna)

29 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*