Tatanan Dunia Baru Dan Atau Kenormalan Baru: Sebuah Renungan

Ilustrasi | Foto: foreignaffairs.com

Direvisi Senin, 4 Mei 2020.

“(Terima kasih untuk Prof Dr Ir Sri Puryono KS MP, guru besar Ilmu Lingkungan  Undip atas masukan dan sarannya. Juga untuk Immanuel Ardika, mahasiswa Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta atas koreksinya. Tak lupa kepada Bung F Tan, aktivis perburuhan yang memberikan kritik bernas untuk perbaikan tulisan ini)”.

Mas Awo

MARI kita merenung sejenak, siapa tahu keruwetan dan ketidak-jelasan kondisi makro yang kita hadapi sekarang ini bisa sedikit terkuak.

Ada dua hal yang terasa membayangi perjalanan kita sekarang ini. Yang pertama adalah apa yang disebut sebagai “TATANAN DUNIA BARU” (TDB) atawa dalam bahasa Inggrisnya New World Order (NWO). Ada yang mencurigai bahwa segelintir orang tengah melakukan upaya menjadi “Penguasa Tunggal Dunia” melalui berbagai cara. Orang pintar bukan saja minum tolak angin, tapi memberi pemahaman dasar munculnya kecurigaan tersebut dalam kerangka “Teori Konspirasi”. Ini istilah keren yang membuat kita ikut bingung.

Yang kedua adalah “KENORMALAN BARU” (KB) yang dalam bahasa internasionalnya ditulis “New Normal” (NN). Alkisah, karena ada yang mencoba membangun tatanan baru, maka akan terbentuk kenormalan yang berbeda dengan yang selama ini kita pakai sebagai standard. Artinya, pola dan kebiasaan yang lama harus ditinggalkan, yang baru mendesak untuk diterapkan. Interaksi dan pola hubungan sosial yang semula benar atau setidaknya baik untuk dilakukan, harus diubah. Setidaknya, orang banyak mempertanyakan kembali apakah yang semula biasa dilakukan masih layak untuk dipertahankan, atau harus ditinggalkan?

Mengenai hubungan antara TDB dan KB apakah karena dirancang dari sononya alias by design, ataukah berkelindan karena kebetulan saja alias by accident, walahualam. Bisa jadi fenomena TDB dan KB cuma rabaan dan pikiran orang-orang yang pintar. Masih perlu pendalaman lagi. Yang pasti waktu akan menjawabnya.

Suka atau tidak, setuju ataupun menolak, TDB dan KB secara lamat-lamat mulai dirasakan orang. Kini, kalau ingin ketinggalan orang harus punya akun media sosial dan email yang ternyata bermuara di google. Harus punya perangkat yang disebut handphone atau telepon seluler yang legal agar bisa melakukan transaksi secara online dengan mudah. Munculnya pola perdagangan yang melewati batas wilayah negara dengan gampang sudah terjadi dan para para pelaku usaha pun menyukurinya, sementara banyak negara dibuat ketar-ketir karena bakal kehilangan kewenangan mengenakan pajak.

Tak dapat dipungkiri pula kalau apa yang disebut “Aplikasi” sekarang ini begitu penting dan berharganya, sama pentingnya dengan peralatan mesin produksi manufaktur yang berada di tanah puluhan ribu meter. Lihat saja penelola aplikasi Go-Jek yang tak punya satu pun armada namun kekayaannya dinilai lebih besar dari perusahaan penerbangan BUMN, Garuda Indonesia.

Kita bisa melihat kenyataan adanya perubahan model bisnis dan layanan angkutan khusus seperti taksi dan ojek misalnya. Juga trend naiknya porsi penjualan makanan via online, kepemilikan nilai uang yang mulai beralih dari fisik dan Kartu ATM serta Kartu Kredit ke dompet elektronik macam Ovo, Go pay dan Pay pal untuk menyebut beberapa contoh.

Namun untuk bisa memilah peristiwa dan fenomena apa yang masuk kategori TDB, mana yang masuk kategori KB, memang tidak gampang. Barangkali hanya orang yang punya indera dan pengetahuan khususlah yang bisa menjelaskan. Tapi itulah yang terjadi sekarang.

Apa yang terjadi sekarang ini, sungguh sebuah kondisi yang bagi orang berusia di atas 50 tahun tak terbayangkan bakal terjadi. Ada yang menganggap fenomena TDB dan KB adalah hal yang biasa, karena itu bagian dari apa yang disebut sebagai “Seleksi Alam”. Karena itu, ada baiknya kalau kita belajar memahami TDB dan KB supaya – seperti piweling Jawa, kita tidak kaget, tidak gumun (takjub) sehingga tetap mampu berperan dalam kehidupan bersama.

TDB alias NWO

Teori konspirasi yang dianggap sebagai dasar munculnya pemahaman adanya  Tatanan Dunia Baru (TDB) alias New World Order (NWO) bisa jadi tercetus ketika orang mencermati Lambang Amerika Serikat yang muncul tahun 1776 dimana tertulis Frasa Latin “novus ordo seclorum”, dan kemudian di tahun 1985 muncul dalam pecahan uang kertas satu dolar AS. Novus ordo seclorum  yang jika diterjemahkan menjadi “Tatanan Baru pada Zaman Ini” oleh orang-orang yang percaya teori konspirasi diartikan sebagai “Tata Dunia Baru”. Peran AS di dunia internasional, dan gayanya sebagai polisi dunia, memperkuat dugaan ini.

Saat tahu bahwa Presiden AS juga punya keterbatasan dalam kebijakan internasional, setidaknya ada Konggres yang bisa menyetop aksinya, tudingan bahwa AS adalah sosok yang diduga ingin menjadi penguasa dunia, sedikit bergeser. Ada keyakinan tak ada satu pun negara yang bisa menguasai seluruh dunia.

Dalam konteks AS, teori konspirasi makin melemah melihat dalam kewenangan pencetakan uang, ternyata The Fed adalah lembaga swasta yang tidak bisa begitu saja diatur oleh penguasa AS. Lantas muncul “tesis” adanya “sekelompok orang” yang bisa mengendalikan AS dan mereka disebut sebagai kelompok iluminati. Ada juga yang menyebutnya sebagai fremansori yang konon berisi orang-orang Yahudi.

Puluhan tahun kelompok yang disebut pengendali itu tak pernah bisa dimunculkan ke publik. Keberadaannya hanya menjadi semacam dongeng saja, tapi penganut teori konspirasi justru memakainya untuk menguatkan dugaannya. Kelompok itu memang rahasia, karena itu tidak bisa ditampilkan, begitu dalihnya.

Kehadiran teknologi informasi yang berkembang sangat pesat, di mana ada orang keturunan Yahudi yang pegang kendali seperti Mark Zuckerberg, membuat anggapan bahwa kelompok rahasia itu betul adanya. Juga adanya peran wahyudi –eh maaf yahudi maksudnya, juga menguat lagi. Sampai-sampai Bill Gates pun diduga masuk dalam kelompok Yahudi, atau setidaknya berbau Yahudi.

Saat wabah Covid-19 atau dalam bahasa awam disebut wabah corona menyerang, yang memaksa ratusan juta orang mengubah kebiasaan seperti bekerja dari rumah, belajar di rumah, belanja dari rumah dan dikenakan pembatasan sosial sehingga teknologi informasi begitu dominan, tuduhan bahwa Bill Gates adalah orang yang ada dalam konspirasi invisible hand makin menjadi-jadi. Kenapa, karena dia pernah bicara akan terjadi wabah besar di tahun 2020. Tudingan makin menguat karena Gates Foundation membiayai riset untuk menemukan vaksin Covid-19.

Maka jangan heran kalau berseliweran tulisan baik lewat WhatsApp maupun media lain bahwa Bill Gates dan beberapa orang terkaya di dunia seperti Mark Zukerberg, Jeff Bezos, Elon Musk, Keluarga Rockefeller dan lain-lain berkonspirasi memanfaatkan pandemi Covid-19 untuk mengurangi populasi penduduk dunia. Setelah dikurangi, menurut alkisah, akan diterapkan program ID 2020, sebuah program untuk mengidentifikasi manusia menggunakan digital identity atau identitas digital.

Dari rumor yang muncul, ID2020 akan menjadi alat mendata penduduk bumi untuk kemudian diberi vaksin Covid-19 yang entah bagaimana caranya dapat bertransformasi menjadi memiliki fungsi chip di tubuh orang. Dengan tertanamnya chip, orang dengan mudah “dibinasakan” kalau tidak patuh pada tatanan dunia baru. Ada yang memprediksi TDB bakal mereduksi peran pemerintah secara signifikan.

Wacana itu makin ramai ketika seorang pastor di di Bedfordshire, Inggris bernama Jonathon James yang mengaku pernah bekerja di Vodafone, melontarkan tuduhan serupa melalui rekaman berdurasi 38 menit. Jutaan orang terhanyut dalam analisis James.

Bill Gates, tokoh sentral tuduhan itu, saat diwawancara oleh CCTV (China Central Television) 9 April 2020 menyebut tuduhan itu sebagai ironi. Gates heran orang yang sudah berusaha sekuat tenaga dan menyediakan dana jutaan dollar untuk membantu ditemukannya vaksin untuk Covid-19, malah disebut konspirator. Tapi suami dari Belinda ini lantas menukasnya dengan enteng, dengan memaklumi apa yang terjadi karena saat ini kita semua memang berada dalam crazy situation sehingga sangat mungkin crazy rumors. Sekilas jawaban Gates memangkas tuduhan itu, meski saya pribadi agak bingung: Kenapa klarifikasi Gates dilakukan di TV China yang sekarang disorot sebagai sumber wabah Covid-19?

Ya, kenapa ya?

KB alias NN

Masker sekarang seolah sudah menjadi perangkat wajib bagi semua orang. Hand sanitizer dan vitamin C pun sekarang menjadi persediaan wajib bagi keluarga. Ada yang menambahkan sarung tangan, lantas pengelola gedung dan perkantoran kini secara rutin berbelanja desinfektan, setara dengan zat pembersihan ruangan-ruangan lainnya. Orang mulai diarahkan untuk bekerja di rumah, siswa dan mahasiswa mulai menjalani pola belajar daring, bahkan rapat-rapat resmi sekarang tidak harus dilakukan dalam satu ruangan yang sama.

Di akhir tahun 2018, beberapa ahli telah mengingatkan akan menguatnya dua ekonomi baru, yakni Digital Economy dan Leisure Economy. Ekonomi digital, sudah jadi bagian kehidupan kita sekarang. Ada dompet elektronik, ada transaksi elektronik, sebentar lagi tandatangan elektronik juga akan diterapkan, orang gak perlu pegang uang tunai lagi. Pengalihan barang pun bisa dilakukan dengan “perintah secara elektronik”.

Adapun fenomena Leisure Economy bukan hanya orang senang pesiar dan mencoba berbagai kuliner untuk memuaskan diri dengan selfi di banyak lokasi sebagai pemenuhan hasrat experience-nya, tapi sudah muncul model pesiar sambil bekerja. Sayangnya karena wabah Covid-19, sekarang bekerjanya dari rumah bukan sambil pesiar lagi karena kebijakan lock down. Mudah-mudahan ini sama penguncian dan pembatasan mobilitas hanya berlaku untuk sementara waktu saja.

Secara lamat-lamat tapi pasti, ada bentuk-bentuk kenormalan baru yang lahir. Kebiasaan hidup seperti digiring ke arah yang tak terbayangkan sebelumnya. Model bisnis pun mulai mengalami perubahan mendasar, orang pintar menyebutnya sebagai disrupsi. Kebiasaan lama diluluh-lantakan, pola baru mulai diterapkan.

Ada yang terasa mengganjal di dada. Siapa sih yang tega-teganya mencoba mengubah dan mengarahkan kebiasaan orang banyak kedalam pola-pola yang tidak terbayangkan sebelumnya? Siapa yang dapat untung dari diterapkannya kenormalan-kenormalan baru? Apakah hanya AS dan China yang sekarang terlibat perang dagang?

Wabah Covid-19 seolah mengubah evolusi kebiasaan manusia yang biasanya berlangsung tahunan, kini menjadi serentak hanya dalam hitungan bulan. Soal siapa yang diuntungkan, semua orang bisa ambil kesempatan karena semua terbuka dan bisa diamati.

Pakar pemasaran Yuswohady membuat rincian, ada 30 perilaku konsumen yang masuk dalam New Normal karena wabah Covid-19. Di antaranya  perubahan online shopping yang semula didominasi produk yang sifatnya keinginan beralih ke kebutuhan pokok, food deliveryberubah arah dari makanan kesenangan ke makanan rutin, hidupnya kembali kebiasaan memasak kaum milenial yang sempat hilang, maraknya kembali menimbun makanan kemasan, serta kembali berperannya siaran TV dalam kehidupan kita.

Selengkapnya silakan simak di: https://www.yuswohady.com/2020/04/23/perilaku-konsumen-di-new-normal/

Yang menjadi pertanyaan, apakah kenormalan baru itu sifatnya sementara ataukah permanen, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Yang pasti, kita harus ambil kesempatan ikut berperan dalam situasi sekarang. Tentunya sembari memperkuat kemampuan menyediakan sendiri kebutuhan pokok, minimal sayuran dengan memanfaatkan ruang yang ada.

Jadi teringat piweling Sri Mangkunegara IV tentang bagaimana hidup dan bekerja yang disebut Asthagina, yakni harus punya pekerjaan yang menghasilkan (panggaotan), terampil (rigên), hemat (gêmi), teliti (nastiti pamriksa),mau berhitung dan membuat rencana ( wruh étung), kritis dan mempertanyakan hal-hal baru (tabêri têtanya), mampu mengendalikan keinginan (nyêgah kayun), dan bersungguh-sungguh (nêmên ing Sêdya).

Dan, hidup ini memang harus sesuai dengan zamannya. Nut ing jaman kelakone. Namun ada satu yang diyakini tidak bisa terdisrupsi, yakni hati. Ya, hati yang menjadi indikator penting social quotient atau kecerdasan sosial, sulit untuk digantikan dengan teknologi secanggih apapun.

*) Oleh Agus Widyanto, Wartawan Anggota PWI

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*