Intensifkan Penjualan Bulog Buka Kios Di Pasar Legi Solo

intensifkan
Suasana kios Bulog di Pasar Legi Solo yang menyediakan komoditas pokok berupa beras maupun gula | Foto : instagram bulog.jateng

JoSS, SOLO – Perum Bulog membuka kios di Pasar Legi Solo guna mengintensifkan penjualan beras beras di wilayah ini. Langkah ini dinilai mampu mempermudah para pedagang pasar untuk mengakses komoditas pokok dari lembaga pemerintah ini.

Kepala Perum Bulog Subdivre III Surakarta Titov Agus Sabelia mengatakan keberadaan kios yang dikelola langsung oleh Bulog tersebut bukan sebagai penyalur melainkan lebih ke menyediakan kebutuhan bagi pedagang.

“Membuka kios di Pasar Legi ini merupakan instruksi dari pusat, untuk komoditas yang kami jual di sini di antaranya beras, gula pasir, dan tepung terigu. Bukan sebagai penyalur, jadi bukan sebagai pesaing pedagang pasar. Kalau untuk saat ini memang belum intensif bukanya karena beberapa barang masih harus ditambah stoknya,” katanya, seperti dikutio dari Antara, Kamis (30/8).

Dia menambahkan untuk komoditas yang dijual tersebut ada yang dalam bentuk curah dan sebagian sudah dikemas dengan merek khusus, seperti gula pasir “Manis Kita” dan “Beras Kita”.

Ia mengatakan di kios tersebut para pedagang akan memperoleh komoditas dengan harga lebih murah, salah satunya gula pasir “Manis Kita” dijual dengan harga beli Rumah Pangan Kita (RPK) Rp11.500/kg dan harga eceran tertinggi (HET) Rp12.500/kg.

Selanjutnya untuk tepung terigu, dikatakannya, dijual dengan harga Rp6.900/kg, beras saset berat 200 gram dengan merek “Beras Kita” dibandrol dengan harga beli RPK Rp2.300/kg dan harga jual Rp2.500/kg.

Baca juga : Kadin Indonesia Jajaki Peluang Bisnis Dengan Myanmar

Sedangkan untuk gula pasir curah harga beli RPK Rp10.600/kg dan HET Rp12.500/kg. Untuk “Beras Kita” kemasan 5 kg, harga beli RPK Rp60.000/kemasan dan HET Rp64.000/kemasan.

“Sejauh ini memang baru komoditas tertentu yang kami sediakan, tetapi kalau memang ada instruksi dari pusat terkait penambahan komoditas maka akan kami lakukan,” katanya.

Sementara itu, terkait penyerapan beras petani di Solo  hingga akhir tahun ini dipatok sebesar 84.000 ton. Dalam pencapaiannya penyerapan beras oleh Perum Bulog Subdivre III Surakarta, Jawa Tengah, hampir mencapai 50% pada pertengahan tahun ini.

Ia mengatakan rata-rata penyerapan per hari mencapai 350-400 ton/hari, jumlah ini meningkat jika dibandingkan beberapa bulan lalu sekitar 200-250 ton/hari.

Penyerapan tersebut, dikatakannya, merupakan panen masa tanam kedua pada tahun ini. Besaran penyerapan tersebut diharapkan bisa stabil hingga akhir tahun. “Kalau untuk puncak penyerapan saya kira ini sudah puncak, harapannya paling tidak bisa stagnan seperti ini terus,” katanya.

Dari seluruh wilayah yang masuk di Subdivre III, dikatakannya, penyerapan yang paling tinggi di antaranya Kabupaten Sragen, Klaten, dan Sukoharjo. “Memang pasca-Lebaran penyerapan lebih baik dibandingkan sebelumnya karena tenaga kerja dan transportasi juga mulai lancar,” katanya.

Sementara itu, dikatakannya, dengan penyerapan tersebut artinya ketersediaan beras di Perum Bulog Subdivre III Surakarta sekitar 21.000 ton. Menurut dia, ketersediaan tersebut mampu untuk memenuhi kebutuhan hingga tujuh bulan ke depan.

“Saat ini kan penyaluran rastra lebih sedikit, hanya di Kabupaten Sragen, Klaten, Karanganyar, dan Wonogiri. Sedangkan Solo, Sukoharjo, dan Boyolali sudah mulai menerima bantuan sosial nontunai sehingga sudah tidak menerima penyaluran rastra secara langsung,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*