
JoSS,JEPARA – Pemerintah Kabupaten Jepara akan tetap menggelar tradisi lomban atau pesta laut kupatan, termasuk pelarungan kepala kerbau di laut tahun. Namun acara tahunan tradisi larungan itu akan digelar dengan sejumlah pembatasan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Zamroni Leztiaza mengatakan berbeda dengan tahun –tahun sebelumnya, pelaksanaan tradisi larungan itu diagendakan pada 20 Mei 2021 ini digelar secara terbatas dan tertutup untuk umum.
Selain itu, guna mencegah kerumunan, dan semua tempat wisata akan tutup hari itu. Tradisi sedekah laut itu meliputi acara ziarah ke makam leluhur, wayangan, larungan serta doa bersama.
“Larungan rencananya digelar secara sederhana dan hanya diikuti peserta terbatas dan tertutup untuk penonton,” katanya, seperti dilansir dari Antara.
Larungan akan diawali dengan penyembelihan kerbau di Rumah Pemotongan Hewan Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian daging kerbau kepada warga dan ziarah ke Makam Mbah Ronggo Mulyo.
Baca juga: Pembuatan Kain Lurik Tradisional di Cawas, Klaten
Adapun acara wayangan yang biasanya digelar semalaman. Namun, kata Zamroni, tahun ini hanya akan dilangsungkan selama dua jam tanpa menghadirkan penonton. Selain itu, tradisi larungan tidak akan melibatkan ratusan perahu nelayan seperti sebelum pandemi.
Dilansir dari Wikipedia, Pesta Lomban atau dikenal juga dengan nama oleh masyarakat setempat sebagai bakda kupat dan bakda lomban adalah pesta masyarakat nelayan di wilayah Kabupaten Jepara dalam bentuk sedekah laut.
Namun kini sudah menjadi milik keseluruhan masyarakat Jepara, bukan nelayan saja. Pusat perayaan ini berada di Pantai Kartini, Jepara, tetapi bisa juga disaksikan di Ujung Gelam, Pantai Koin, Karimunjawa, serta beberapa tempat yang di tentukan sebelumnya.
Pesta ini merupakan puncak acara dari Pekan Syawalan yang diselenggarakan pada tanggal 7 Syawal atau 1 pekan setelah hari Raya Idul Fitri yang dirayakan di banyak daerah di Pantai Jepara.
Dalam kalawarti atau majalah berbahasa Melayu bernama Slompret Melayu yang terbit di Semarang pada tanggal 12 dan 17 Agustus 1883 dituliskan tentang kemeriahan pesta Lomban di Jepara. (lna)

Leave a Reply