Berpotensi Tularkan Virus, Penjualan Terompet Tahun Baru 2021 Dilarang

Kolase, terompet-Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo | Foto: net/republika

JoSS, SOLO – Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo melarang penjualan terompet yang biasa digunakan untuk perayaan malam tahun baru. Terompet berpotensi menularkan virus, kebijakan ini guna meminimalkan penyebaran COVID-19 di kalangan masyarakat.

“Perayaan ora entuk opo meneh terompet (perayaan saja tidak boleh, apalagi terompet),” katanya, seperti dilansir dari Antara.

Ia mengatakan terompet yang dijual oleh para pedagang belum tentu steril. Bahkan, terompet tersebut berpotensi menularkan virus ke orang lain mengingat sebelum dijual terompet harus dicoba terlebih dahulu oleh pedagangnya. “Karena setiap kali dijual kan sudah ditiup dulu, dropletnya di situ,” katanya.

Ia mengatakan pelarangan penjualan terompet tersebut bukan berarti mematikan rezeki para pedagang, tetapi Pemerintah Kota Surakarta hanya ingin mencegah penularan COVID-19 agar tidak makin meluas.

Selain itu, ia menegaskan tidak boleh ada kerumunan di malam tahun baru. Dikatakannya, jangan sampai ada perayaan apapun di malam pergantian tahun tersebut. “Kerumunan lebih dari lima orang langsung ‘digaruk’ kok,” katanya.

Sebelumnya, ia berupaya terus memaksimalkan tracing atau penelusuran di kalangan masyarakat untuk memastikan perawatan yang bisa diberikan, baik itu untuk pasien yang bergejala maupun yang tanpa gejala.

Baca juga: Operasi Yustisi dan Test Rapid Antigen Digelar di 11 Lokasi, Kalau Positif Langsung Dikarantina

“Karantina mandiri disiapkan bagi masyarakat yang rumahnya tidak memadai untuk karantina mandiri. Contohnya satu rumah untuk 21 orang, yang empat positif, yang 17 mau dikemanakan. Ada kasus itu di Sudiroprajan,” katanya.

Selain itu, pihaknya akan kembali mengaktifkan Ndalem Joyokusuman sebagai lokasi lain untuk karantina mandiri. Bahkan, jika kapasitasnya masih tidak mencukupi, maka rumah dinas wakil wali kota dan rumah dinas sekretaris daerah juga akan dimanfaatkan sebagai lokasi karantina mandiri.

“Kalau memang zona merah, Solo Technopark bagian utara juga akan kami aktifkan. Kapasitasnya lebih dari 200,” katanya.

Selain itu, dikatakannya, ruangan di rumah sakit yang digunakan untuk perawatan pasien COVID-19 juga sudah penuh sehingga pemerintah harus mengoperasikan Asrama Haji Donohudan untuk orang tanpa gejala (OTG).

“Rumah sakit sudah penuh. ‘Bed’-nya ada, ruang isolasi yang nggak ada, kan ada yang dirawat di bangsal dan ada yang di ICU. Kalau isolasi harus satu-satu, kan harus ada ventilator. Di sisi lain pasien di Donohudan sudah ada, sudah banyak. Pertama kali 77, sekarang bertambah,” katanya.

Sementara itu, diakuinya, saat ini jumlah kasus positif COVID-19 di Kota Solo terus bertambah. Bahkan, hasil tracing atau penelusuran terakhir dari 120 pasien ditemukan 120 pasien baru.

“Kalau Solo zona merah itu ya karena kami makin kencang untuk tracing. Kalau kita menghendaki hasil tracing minim ya kami tidak perlu melakukan tracing seperti ini, swab-nya acak saja. Perkara yang tidak di-swab ini ternyata positif ya kami tidak tahu,” katanya.

Ia mengatakan jika hal itu dilakukan maka risikonya adalah akan makin banyak orang yang terjangkit virus tersebut. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*