Harga Kopi Temanggung Anjlok Sampai 50%, Petani Terpukul

Ilustrasi | Foto: inakoran.com

JoSS, SEMARANG – Harga kopi yang dihasilkan petani di Temanggung Jawa Tengah anjlok sampai 50 persen, sehingga para petani kopi di lereng Sindoro dan Sumbing itu terpukul. Harga jual yang diterima sudah tak sepadan lagi dengan biaya budidayanya, sementara hasil panennya terpaksa menumpuk di rumah para petani.

Ketua Sindoro Sumbing Kopi Forum (SSKF), Zaenal Arifin, mengatakan kondisi yang dialami para petani kopi ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. Anjloknya permintaan karena pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak kafe tutup, membuat permintaan melorot. Namun di sisi lain, peluang ekspor juga memburuk karena adanya panen raya kopi di negara produsen lain seperti Brasilia.

Menurut Zaenal, hasil panen tahun lalu saja baru terserap 60%, sementara panenan tahun ini sudah dimulai sehingga stok kopi Temanggung melimpah. “Harga kopi sampai di posisi 35 sampai 40 ribu per kilogramnya. Sungguh tidak sepadan dengan biaya budidayanya,” kata Zaenal Arifin kepada joss.co.id, Kamis (11/6/2020).

Akibatnya para petani di Sindoro Sumbing pun terpukul dengan keadaan ini. Namun para petani kopi tetap memproses hasil panennya, meski rasa cemas menghantui karena tak tahu kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Sebagai upaya penyelamatan, SSKF berupaya membantu penjualan langsung ke konsumen melalui penjualan online. Langkah itu ditempuh, karena para pengepul juga tak berani melakukan pembelian hasil panen petani karena tak mau menanggung biaya penyimpanan yang tinggi dan mengandung risiko kerusakan.

Lesunya pasar kopi sendiri mulai dirasakan petani Temanggung mulai awal Maret 2020, ketika beberapa kafe mulai tutup akibat wabah corona dan diterapkannya pembatasan pergerakan masyarakat di beberapa wilayah. Kondisi itu diperparah dengan panen raya negara lain, yang membuat pasok kopi dunia berlimpah. “Jangankan berharap laba, bisa balik modal saja sudah bagus,” ungkap Zaenal.

Baca juga: Kopi Lanang Benarkah Bisa Membantu Vitalitas Lelaki?

Dia berharap pemerintah Kabupaten Temanggung maupun pemerintah Provinsi Jawa Tengah mau membantu mencari solusi para petani kopi Temanggung yang berkontribusi 60% dari total produksi kopi Jawa Tengah. Apapun bentuk bantuannya, kata Zaenal, pasti bermanfaat untuk petani yang sekarang dalam posisi sulit.

Perlu dipahami, kopi yang dihasilkan Kabupaten Temanggung memiliki citarasa yang khas yang tidak dipunyai kopi dari daerah lain manapun. Kopi yang dihasilkan Kawasan Pegunungan Sindoro-Sumbing memiliki aroma tembakau, produk pertanian yang juga banyak dihasilkan di Temanggung. Hal itu merupakan ciri khas karena aroma kopi sangat dipengaruhi oleh tanaman di sekitarnya.

Ada dua jenis kopi yang dihasilkan Temanggung, yaitu kopi jenis Arabica yang ditanam di ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl) dan kKopi jenis Robusta yang ditanam di wilayah yang lebih rendah. Kopi Arabica yang disukai masyarakat Eropa, memiliki kadar kafein yang rendah yakni separuh dari kadar kafein kopi Robusta. Karena areal tanamnya terbatas, kopi Arabica memiliki harga jual yang tinggi.

Para petani kopi di Temanggung saat ini sebenarnya sudah menerapkan standar kualitas yang baik, mulai dari proses penanaman dan perawatan tanaman; kemudian yang vital adalah proses pemetikan, dan selanjutnya adalah proses pengolahannya. Proses petik yang merupakan kunci akhir dari kualitas kopi, dijaga betul oleh para petani hanya memetik cery yang matang merah saja.

“Kami berharap pandemik segera berakhir.  Kami juga berharap masyarakat memilih mengkonsumsi kopi lokal karena kualitasnya tidak kalah dengan kopi impor. Kalau ini bisa terwujud masyarakat akan mendapatkan kopi sehat dan berkualitas, dan petani kopi bisa hidup dengan lebih baik,” tukasnya. (awo)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*