Mencari Faktor Penyebab Keparahan Penderita COVID-19

Ilustrasi yang menunjukkan bagaimana suatu penyakit dapat menyebar di seluruh dunia | Foto: metro.co.uk
Nila Ardhianie

Berbagai kalangan termasuk masyarakat awam sekarang ini ingin tahu mengapa sebagian orang yang terinfeksi COVID-19 (coronavirus disease 2019) mengalami gejala ringan, sementara yang lainnya sampai perlu rawat inap dan bahkan meninggal. Apa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi?

Edward Parker dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengatakan kepada New Scientist seperti dikutip pada nymag.com (27/3/2020) bahwa salah satu faktor yang sedang diteliti adalah “viral load”. Viral load adalah jumlah virus yang terdeteksi pada pasien.

Indikasi awal menunjukkan adanya korelasi antara beratnya gejala yang dialami pasien COVID-19 dengan viral load. Hal ini sekarang sedang diteliti secara seksama oleh para peneliti, apakah orang dengan viral load yang lebih besar umumnya mengalami sakit yang lebih parah. Berikut ini adalah beberapa perkembangan penelitian terbaru yang dikumpulkan oleh Joss.co.id

Meneliti apakah seseorang yang terpapar lebih banyak partikel virus corona berarti akan mengalami sakit yang lebih parah, menjadi sangat penting baik bagi dunia medis maupun umum. Di kalangan umum belakang mulai beredar pembicaraan di media sosial bahwa pekerja kesehatan dan anggota keluarganya kalau terinfeksi akan mengalami sakit yang lebih parah dari orang kebanyakan. Ini tentu membuat ciut hati kalangan medis. Sementara itu bagi dunia kedokteran pengetahuan mengenai viral load sangat bermanfaat untuk meningkatkan tingkat kesembuhan pasien.

Secara umum Willem van Schaik dari Universitas Birmingham Inggris mengindikasikan bahwa hubungan antara infeksi dan COVID-10 jauh lebih komplek dan berbeda dengan penyakit pernafasan lainnya. Seperti dikutip dari www.newscientist.com (27/3), Schaik juga menungkapkan bahwa seseorang yang memiliki viral load yang tinggi, justru kemungkinan lebih besarnya  adalah menginfeksi orang lain karena dia membawa lebih banyak partikel virus. Namun, dalam kasus COVID-19, hal itu tidak selalu berarti bahwa viral load yang lebih tinggi akan menyebabkan gejala yang lebih parah.

Petugas kesehatan yang meneliti wabah COVID-19 di wilayah Lombardy di Italia mengamati lebih dari 5.000 orang yang terinfeksi, dan tidak menemukan perbedaan dalam viral load antara mereka yang memiliki gejala dan yang tidak. Mereka mencapai kesimpulan tersebut setelah melacak orang yang telah melakukan kontak dengan seseorang yang diketahui terinfeksi dengan virus corona dan menguji mereka untuk melihat apakah mereka juga terinfeksi.

Akan tetapi penelitian lain menunjukkan hal yang berbeda. Penelitian terhadap pasien rawat inap di Nanchang, China, menemukan hubungan yang kuat antara keparahan dan jumlah virus yang ada di hidung. “Pasien yang sakit parah memiliki tingkat replikasi virus yang tinggi. Akan tetapi kami tidak memiliki bukti adanya hubungan antara dosis terpapar awal dengan tingkat keparahan penyakit,” kata Leo Poon dari Universitas Hong Kong.

Beberapa artikel ilmiah di jurnal penyakit menular yang terkenal The Lancet menulis mengenai viral load yang didasarkan pada catatan penanganan pasien selama wabah COVID-19 melanda China. Tim peneliti yang dipimpin Wang To menyimpulkan bahwa usia berhubungan dengan viral load. Makin tua pasien cenderung memiliki viral load yang tinggi pula.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Chen dan Li menyimpulkan bahwa viral load yang tinggi pada masa awal infeksi membuat pasien memiliki kemampuan menginfeksi paling tinggi. Hal ini kemungkinan menjadi faktor penyebab mengapa penyebaran virus ini sangat cepat karena orang yang baru terinfeksi mungkin tidak langsung diisolasi, akan tetapi masih berinteraksi dengan orang sekelilingnya.

Temuan itu sejalan dengan penelitian Qiu dan beberapa dokter lainnya terhadap 36 pasien anak-anak yang terjangkir COVID-19. Diketahui bahwa 89% anak-anak tersebut mendapat penyakit dari kontak dengan keluarga.

Profesor Jonathan Ball, Profesor Virologi Molekuler, Universitas Nottingham, mengatakan “Kita tahu bahwa kemungkinan penularan virus meningkat dengan durasi dan frekuensi paparan orang yang tidak terinfeksi dengan seseorang yang terinfeksi virus. Kami juga mencurigai bahwa jumlah virus yang diproduksi oleh individu yang terinfeksi juga akan berdampak pada penularan; semakin tinggi viral load, semakin besar kemungkinan seseorang akan terinfeksi.”

Sampai saat ini para ahli dunia kesehatan masih terus melakukan penelitian mengenai COVID-19, mari sama-sama berharap agar temuan-temuan penting yang relevan segera dapat disimpulkan sehingga permasalahan besar yang belum pernah ada presedennya ini dapat segera diatasi. (Nila Ardhianie)

Baca juga: Tips Terhindar Dari Covid-19 (Bagian 2) Menghindari Kemungkinan Terpapar Beragam Media

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*