Perekonomian Hong Kong Diprediksi Terkoreksi Minus 1,3% Tahun Ini Akibat Demo

Polisi menggunakan meriam air terhadap pengunjuk rasa di Hong Kong pada hari Minggu | Foto: Vincent Yu / AP/vg.no

JoSS, HONG KONG – Pemerintah Hong Kong memproyeksi pertumbuhan ekonomi negaranya terkontraksi atau negatif 1,3 persen pada akhir tahun nanti. Ini merupakan resesi ekonomi pertama Hong Kong sejak krisis keuangan global melanda satu dekade lalu.

Demo di Hong Hongkong yang berlangsung sejak enam bulan terakhir berdampak pada berkurangnya kegiatan ekonomi di pusat keuangan Asia ini. Hal itu berpotensi ancaman resesi ekonomi terparah sejak satu decade terakhir.

Andrew Au, Ekonom Pemerintahan Hong Kong, menerangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Hong Kong dipangkas karena protes pro-demokrasi, perlambatan ekonomi dunia, termasuk perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

“Mengakhiri kekerasan dan memulihkan ketenangan sangat penting bagi pemulihan ekonomi,” ujarnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP, Minggu (17/11).

Sebelum protes dan demo meluas enam bulan lalu, Pemerintah Hong Kong memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 2-3 persen. Namun, per Agustus, pemerintah mulai menurunkan proyeksinya menjadi 0-1 persen.

Baca juga: Situasi Politik Terus Memburuk, Hong Kong Terancam Ditinggalkan Warganya

Sayangnya, laju ekonomi bergerak lebih dramatis dari yang diperkirakan, sehingga mendorong Hong Kong dalam resesi pada kuartal ketiga 2019. Resesi ekonomi ialah pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Apabila krisis politik dan demo Hong Kong tidak berakhir, ekonom memperkirakan ekonomi negaranya bisa lebih buruk dari yang dikhawatirkan. Demo Hong Kong sendiri telah memukul industri perbelanjaan dan pariwisata.

Fesyen sekaliber Salvatore Ferragamo, Burberry, dan maskapai penerbangan Cathay Pacific mengaku krisis politik dan demo Hong Kong telah berdampak pada penjualan mereka.

Kendati prospek ekonominya suram, pasar keuangan Hong Kong mendapatkan kepercayaan besar dari raksasa teknologi Alibaba. Perusahaan e-commerce China tersebut berencana melakukan aksi korporasi penjualan saham untuk mencari dana segar US$13 miliar. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*