JoSS, HONG KONG – Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengatakan ia berharap pawai damai hari Minggu melewati jalan-jalan di teritori China itu, menandai titik balik dalam protes anti pemerintah selama hampir dua bulan ini.
Protes tersebut bermula dari usulan legislasi mengenai ekstradisi, yang memungkinkan tersangka penjahat dikirim ke China daratan. Tetapi protes berubah menjadi kekerasan dan menjerumuskan Hong Kong ke dalam krisis politik terbesarnya sejak Inggris mengembalikan wilayah itu ke Beijing pada tahun 1997.
Demonstran telah mengajukan satu daftar tuntutan, termasuk di antaranya penarikan penuh legislasi ekstradisi itu, penyelidikan independen terkait tuduhan kebrutalan polisi selama protes, pembebasan lebih dari 700 orang yang ditahan sewaktu demonstrasi berlangsung, pemilihan langsung pemimpin kota itu, dan pengunduran diri Lam.
Seperti dikutip dari VOAIndonesia, Lam mengatakan bahwa polisi Hong Kong akan melancarkan penyelidikan internal terhadap 174 pengaduan mengenai kekerasan oleh polisi, termasuk pengaduan tentang gas air mata dan peluru karet yang ditembakkan ke arah demonstran.
Ia tidak menyebut-nyebut tentang penarikan resmi legislasi ekstradisi yang kontroversial itu sebagaimana yang dituntut para demonstran, seraya menyatakan bahwa legislasi itu sudah “mati.”
Kekhawatiran kian besar di Hong Kong bahwa kota itu secara perlahan kehilangan otonominya, yang dijanjikan hingga 2047 berdasarkan perjanjian penyerahan kembali dengan Inggris.
Baca juga: Di Demo Berbulan-Bulan Carrie Lam Pantang Mundur Dari Jabatan
Warga Hong Kong sekarang ini dilindungi oleh Undang-Undang Dasar, seperangkat hak sipil dan politik yang dianggap sebagai konstitusi mini Hong Kong
Seperti diketahui, pada Minggu (18/8) puluhan ribu demonstran pro-demokrasi berarak-arakan secara damai melalui jalan-jalan Hong Kong pada hari Minggu, pekan ke-11 dalam serangkaian protes anti-pemerintah.
Front Hak Asasi Manusia Sipil, kekuatan pendorong di belakang protes Hong Kong sepanjang musim panas ini, telah menyerukan demonstrasi “rasional, tanpa kekerasan” pada hari Minggu.
Para pengunjuk rasa sebelumnya bentrok dengan polisi di jalan-jalan dalam protes akhir pekan lainnya dan selama dua hari pekan lalu di bandara internasional Hong Kong, yang menyebabkan pembatalan hampir 1.000 penerbangan.
Menjelang unjuk rasa hari Minggu (18/8), Kanada mengeluarkan pernyataan bersama dengan Uni Eropa untuk membela “hak fundamental untuk berkumpul” bagi warga Hong Kong.
Menteri Luar Negeri Kanada, Chyrstia Freeland dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan: “Kebebasan mendasar, termasuk hak untuk berkumpul secara damai harus terus ditegakkan.”
Sebagai reaksi, Kedutaan Besar China di Ottawa menerbitkan pernyataan di situs webnya, mengatakan bahwa Kanada harus “segera berhenti mencampuri urusan Hong Kong dan urusan dalam negeri China.”
Sementara itu, Taiwan telah menawarkan pemberian suaka politik kepada para peserta gerakan pro-demokrasi Hong Kong, tawaran yang juga telah membuat marah China. (lna)

Leave a Reply