JoSS, SEMARANG – Ketua Komisi D DPRD Jateng Alwin Basri memastikan Tol Semarang–Demak akan dibangun pada 2020. Waktu pengerjaan selama tiga tahun, sehingga pada 2024 jalan bebas hambatan yang juga berfungsi segabai tanggul laut pantai utara Jawa in ibis beroperasi.
Dalam kunjungan kerjanya ke ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia, Selasa (15/10), Doktor Administrasi Publik Universitas Diponegoro itu menjelaskan, pada tahun depan sudab dilakukan pemasangan tiang pancang.
Secara kontruksi, lanjutnya jalan bebas hambatan itu bakal dilewati 16 ribu kendaraan di tahun pertama, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan berat dan bus.
“Kami meminta percepatan, agar pada tahun 2020 dilakukan pemasangan tiang pancang (ground breaking) dan terus dilanjutkan pembangunannya sehingga bisa selesai sesuai dengan perencanaan,” ungkap anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jateng itu, seperti dikutip dari dprd.jatengprov.go.id.

Alwin berharap, pembangunan jalan tol tersebut bisa mengatasi persoalan rob, kemacetan, serta mobilitas warga di Jalan Raya Semarang-Demak. Selama ini masyarakat sudah jenuh dengan kondisi tersebut, sehingga pembangunan tol tersebut memang sangat ditunggu dan diharapkan oleh masyarakat.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso menjelaskan, kurang lebih sepanjang 10,69 km konstruksi bangunan berupa tanggul laut yang membentang dari Kaligawe (Kota Semarang) sampai Morosari, Kecamatan Sayung (Demak).
Baca juga: 600 Hektare Lahan di Sekitar Tol Semarang-Demak Bakal Dikembangkan Secara Bertahap
“Kami menyambut baik, ini (tol Semarang-Demak) harapan masyarakat agar segera terbebas dari rob, ekosistem dan daya dukung lingkungan tetap harus jadi prioritas,” terangnya.
Menurut anggota Fraksi PKS tersebut, daerah yang ditanggul merupakan kawasan hilir Kali Babon dan Kali Sringin dan juga titik terparah abrasi. Karena itulah perlu penanganan dan perhatian khusus.

“Limpahan air sungai, sedimentasi, perubahan arus air laut, dan tentunya ekosistem flora, fauna perlu benar-benar diperhatikan, jangan sampai niat baik, berujung kerusakan karena kurang matangnya perencanaan,” lanjutnya
Berdasarkan detail engginering design (DED) selain tanggul laut juga akan dilengkapi oleh dua kolam retensi seluas 240 hektare dan 45 hektare sebagai lokasi penampungan drainase di kawasan yang kerap rob.
Permasalahannya di kawasan pesisir itu banyak tumbuh spesies mangrove yang khas dan banyak biota laut dan sungai. Lanjut Hadi, pemerintah perlu mencarikan solusi tidak merusak ekosistem di tempat itu.
Proyek tol Semarang-Demak direncanakan menghabiskan biaya Rp 12,24 triliun dengan membutuhkan lahan seluas 5.352.216 M2 setara dengan 1.523 bidang tanah. Sampai sekarang ini lahan sudah dibebaskan seluas 446.426 M2 (8,34%).
Ada 21 Kelurahan/desa yang terlewati yang tersebar di lima kecamatan yaitu di Kota Semarang yakni Kecamatan Genuk, sementara di Demak yakni Kecamatan Sayung, Karangtengah, Wonosalam, Demak Kota. Pembangunannya akan dikelola oleh Badan Usaha Jalan Tol PT Pembangunan Perumahan (PP) Semarang-Demak yang merupakan konsorsium PT PP, WIKA, MMM akan selesai tahun 2024. (ADV)

Leave a Reply