Jutaan Umat Muslim di Tanah Air Gelar Salat Gaib dan Tahlil Untuk Mbah Moen

Ilustrasi salat gaib | Foto: tribunnews

JoSS, SURABAYA – Wafatnya Kiai Haji Maium Zubair atau yang kerab dipanggil Mbah Moen Selasa (6/8) di Mekkah, memberikan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia khususnya bagi jutaan umat muslim di Tanah Air. Sosok kiai karismatik itu sebagai panutan atau simbol pemersatu bangsa dan penjaga NKRI.

Untuk itu, jutaan umat muslim menggelar salat gaib dan tahlil pada Selasa (6/8) malam yang dilaksanakan di berbagai tempat.

Bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) wafatnya Mbah Moen merupakan kehilangan sosok pemimpin dan pendiri Partai berlambang Kakbah.

Salat gaibpun digelar Di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP, Jalan Diponegoro, Jakpus, nampak bendera PPP dan bendera Indonesia dikibarkan setengah tiang, tanda sedang berduka.

Selain salat gaib, diadakan juga pembacaan doa dan tahlil bersama. Para petinggi dan kader PPP terlihat sudah memasuki ruangan salat ghoib di antaranya Plt Ketua PPP Suharso Monoarfa dan Sekjen PPP Arsul Sani.

Sementara itu, Kepolisian Daerah Jawa Timur turut berduka atas meninggalnya Mbah Moen. Sebagai tanda penghormatan terakhir, Polda Jatim menggelar salat gaib di Masjid Arif Nurul Huda yang dilakukan seusai salat Asar dengan diikuti ratusan anggota kepolisian.

“Kami sangat kehilangan sesosok kiai kharismatik yang sangat mencintai NKRI. Untuk itu, sore ini kami adakan salat gaib untuk mendoakan beliau (Mbah Moen) agar ditempatkan di surga terindah di sisi-Nya,” ujar Wadir Binmas AKBP Akmal Bahtiar.

Selain salat gaib, tambah Akmal Bahtiar, jamaah juga membacakan Surat Yasin dan tahlil. “Tadi usai salat gaib, kami juga bacakan Yasin dan tahlil,” pungkasnya.

Baca juga: Wafat di Mekkah Pada Hari Selasa Adalah Doa Mbah Moen

Di Banyumas, sekitar 2.000 santri di Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy Dusun Leler Desa Randegan Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa malam (6/8/2019) ini menggelar salat gaib untuk mendoakan Mustasyar PB NU Maimoen Zubair yang wafat di Makkah.

Salah gaib dilaksanakan di gedung serba guna pondok, selepas magrib. Masing-masing dilaksanakan santri putra dan putri.

Masih di tempat yang sama, para santri kemudian mengikuti tadarus Alquran sampai khatam. Selanjutnya, santri mendoakan wafatnya Mbah Moen dengan tahlilan.

Ketua Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy 2, Syaiful Amir mengatakan, kegiatan tersebut secara khusus digelar untuk mendoakan wafatnya Mbah Moen. Hal itu sesuai dengan amanat dari pengasuh ponpes tersebut yang juga mantu Mbah Moen, Zuhrul Anam atau akrab disapa Gus Anam.

“Tadi Abah (Gus Anam) mengamanatkan santri supaya melaksanakan salat gaib setelah magrib, kemudian dilanjutkan tadarus Alquran dan tahlilan,” kata Syaiful Amir seperti dikutip dari Suara.com, Selasa malam.

Saat ini, lanjut dia Gus Anam bersama keluarga besar ponpes sedang berada di rumah duka Mbah Moen, di Sarang, Rembang. Karena itu, pelaksanaan salat gaib hingga tahlil dipimpin oleh pengurus pondok.

“Yang mimpin Ustad Muhammad Ibnu Nizar, selaku Koordinator Kemaarifan ponpes,” kata dia.

Di Solo, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Solo juga menggelar salat gaib. Tak hanya di Kantor PCNU Solo, salat gaib juga akan digelar di sejumlah pondok pesantren di Solo.

Ketua PCNU Solo, M Mashuri mengatakan warga nahdliyin sangat berduka atas meninggalnya pimpinan Pondon Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang di Makkah. Untuk mendoakan Mbah Moen, warga Nahdliyin akan menggelar salat gaib di Kantor PCNU Solo.

Selain dua lokasi tersebut, menurut Mashuri, sejumlah pondok pesantren di Kota Solo pun akan menggelar salat gaib untuk mendoakan Mbah Moen. Bagi warga Nahdliyin Solo, sosok Mutasyar PBNU itu sangat lekat hubungannya karena sering mengunjungi Kota Bengawan. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*