Wafat di Mekkah Pada Hari Selasa Adalah Doa Mbah Moen

KH Maimoen Zubair | Foto: google

JoSS, MEKKAH – Mustasyar (penasihat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) pernah menginginkan jika meninggal dunia, beliau sedang berada di Tanah Suci Makkah saat melaksanakan ibadah haji pada hari Selasa.

Seperti dikutip dari NUOnline, Keinginan Mbah Moen tersebut diungkapkan KH Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam) melalui akun Facebooknya. Gus Anam merupakan salah seorang menantu Mbah Moen dan yang mendampinginya di Tanah Suci Makkah saat ini.

“Mbah Yai Maimun pernah dawuh, minta didoakan meninggal pada hari Selasa karena biasanya orang ahli ilmu itu meninggalnya hari Selasa. Dan minta didoakan meninggal di Makkah pas haji. Masya Allah, diijabah oleh Allah semuanya,” kata Gus Anam melalui Facebooknya, Selasa (6/8) pukul 11.25.

Ternyata memang betul, Allah mengabulkan keinginan Mbah Moen tersebut. Ia meninggal dunia pada Selasa pukul 04.17 waktu Arab Saudi saat menjalankan ibadah haji di Makkah.

Mbah Moen, kiai berusia 90 tahun ini berangkat ke Tanah Suci Makkah pada Ahad 28 Juli. Meskipun usia sudah lanjut, hampir tiap musim haji, pengasuh pondok pesantren Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah ini melaksanakan rukun Islam kelimat tersebut.

Ucapan duka dan kehilangan mendalam untuk Mbah Moen mengalir deras melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook. Mulai tokoh agama, politikus, santri, hingga masyarakat luas.

PBNU, melalui Sekretaris Jenderal Helmy Faishal Zaini segera menginstruksikan Nahdliyin untuk mendirikan Shalat Ghaib untuk Mbah Moen.

“Kepada umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama, mari bersama-sama melaksanakan shalat ghaib dan membacakan surat Al-Fatihah untuk KH Maimoen Zubair. Semoga senantiasa ditempatkan di tempat yang paling mulia di sisi Allah SWT,” ungkap Sekjen Helmy.

Baca juga: Jenazah Mbah Moen Dimakamkan di Al-Ma’la Tanah Suci Mekkah

Menurut Helmy, wafatnya Mbah Moen, bangsa Indonesia kehilangan tokoh yang penuh sikap kebersahajaan.  Mbah Moen, merupakan salah seorang kiai ahlul halli wal aqdi (ahwa) yang dibentuk PBNU pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, untuk menentukan Rais Aam PBNU.

“Indonesia kehilangan tokoh panutan, pemimpin, dan pengayom umat,” kata Sekjen.

Dengan wafatnya Mbah Maimoen, bangsa Indonesia kehilangan tokoh yang penuh sikap kebersahajaan. “Semoga teladan almaghfurlah diteruskan para kader-kader bangsa. Semoga Allah Swt mengampuni segala kekhilafannya & menempatkannya di surga yang terbaik,” imbuh Sekjen.

KH Maimoen Zubair merupakan sosok yang gigih untuk memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan ke-Indonesia-an. Salah satu upaya penting yang dilakukan oleh KH Maimoen Zubair adalah menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah Swt atas perjuangan yang penuh dengan kesungguhan dan menghapuskan penjajahan.

“Semoga jejak keteladanan yang diwariskan oleh KH Maimoen Zubair bisa kita serap sebagai pelajaran untuk menghadapi tantangan zaman di masa yang akan datang,” tutup Sekjen.

Selamat Jalan Mbah Moen.. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*