Koes Plus, Bermain di Semua Genre Musik

JoSS, SEMARANG – Koes Plus dikenal sebagai band pop dan rock n roll legendaris di Indonesia. Grup ini merupakan kelanjutan dari Koes Bersaudara yang telah dikenal di era 1960-an.

Berawal dari mundurnya Nomo Koeswoyo (drum) dari formasi Koes Bersaudara pada tahun 1969. Menyusul kemudian Yok Koeswoyo (bas) , lantaran sikap setia kepada kakaknya, Nomo. Maka Tony Koeswoyo (gitar/kibor/vocal) sebagai leader grup, perlu mencari dua musisi menggantikan mereka.

Kasmurry atau kemudian dikenal Murry kemudian masuk mengisi posisi drummer. Sedangkan untuk pencabik bas, direkutlah Totok AR. Dengan formasi: Tony (gitar/kibor/vokal), Yon (gitar/vokal), Toto AR (bas), dan Murry (drum) mereka merekam debut album Deg Deg Plas di tahun 1969.

Namun sebelumnya, nama Koes Bersaudara, mereka ubah menjadi Koes Plus. Karena ada dua nama personel yang tidak masuk dalam keluarga Koeswoyo, yaitu Murry dan Totok AR. Kata: Plus, menurut Murry, diperoleh saat dia dan Tony tengah jalan-jalan dan melihat tulisan merek obat di billboard ada kata: Plus.

Baca juga: Erwin Gutawa Persembahkan Konser Salute untuk 3 Musisi Wanita

Sayang, album pertama Deg Deg Plas yang dipengaruhi gaya musikalitas BeeGees, The Beatles, dan The Rolling Stones, tidak laku di pasaran. Akan tetapi hal itu tak berlangsung lama. Ketika Koes Plus tampil di acara Jambore Musik di Jakarta, mereka langsung mendapat sambutan meriah dari penonton. Selain itu lagu-lagu mereka di debut album itu juga diputar RRI, membuat masyarakat mulai mencari piringan hitam debut album mereka.

Tahun 1970, Yok memutuskan gabung lagi dengan Koes Plus, yang otomatis menggantikan posisi Totok AR. Tahun 1970-1977, bisa dikatakan sebagai tahun kejayaan Koes Plus. Album-album dan lagu-lagu mereka banyak yang menjadi hits, seperti “Bunga di Tepi Jalan”, “Manis dan Sayang”, “Kapan-kapan”, “Mobil Tua”, sampai sequel lagu “Nusantara”.

Koes Plus bahkan jadi panutan sejumlah band pop yang hadir di era itu, macam Panbers, Favorites, The Mercys, hingga D’Loyd. Akan tetapi, Koes Plus tidak sebatas bermain di wilayah pop atau rock n roll. Mereka juga memainkan dan merekam album dalam gaya musik pop melayu (kini pop dangdut), pop Jawa, pop keroncong, pop anak-anak, qasidah, sampai Natal. Hal yang sama juga diikuiti grup band lainnya.

Tentang Koes Plus yang memainkan musik pop melayu, Tony mengaku sebelumnya tertarik dengan rekaman instrumental pop melayu yang dimainkan Mochtar Embut. Selain itu, larisnya penjualan pelat piringan hitam pop melayu jauh lebih tinggi dari pelat piringan hitam musik pop. Otomatis Koes Plus perlu mencoba memainkan musik pop melayu dan terbukti sukses. Demikian seperti yang dilansir dari Majalah Aktuil, 1974.

Sayangnya, setelah musik pop Indonesia mengalami perubahan di 1977, popularitas Koes Plus semakin turun. Walau pun mereka masih terus merilis album hampir setiap tahun. Tahun 1987, Tony meninggal dunia akibat kanker usus. Hingga menyisakan Yon, Yok, dan Murry.

Sebagai dedikasinya pada musik pop Indonesia, Koes Plus pada 1992 mendapat penghargaan BASF Legend Award. Penghargaan ini menandai semangat bermusik Koes Plus ditambah kolaborasinya dengan sejumlah musisi terkenal. Mereka yang pernah mendukung Koes Plus adalah: Jelly Tobing, Abadi Soesman, Deddy Dores, hingga Ian Antono.

Kini Koes Plus hanya menyisakan Yok, setelah Yon dan Murry wafat. Namun lagu-lagu mereka masih tetap dikenang dan disukai masyarakat. (nug/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*