Berbiaya Mahal Warga Berharap Pemprov Tak Sering Gelar Apel Kebangsaan

Apel kebangsaan
Suasana Acara Apel Kebangsaan Kita Merah Putih yang digelar di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Minggu lalu | Foto: facebook

JoSS, SEMARANG – Acara Apel Kebangsaan Kita Merah Putih yang digelar di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Minggu (17/3), sukses digelar. Acara yang menghabiskan biaya 18 miliar itu sempat mendapat kritikan dari masyarakat.

Murtiningsih dari Majelis Taklim Maratus Sholihah Pucang Gading yang datang di acara tersebut berharap biaya untuk acara Apel Kebangsaan bisa diminimalisasi.

Menurut dia kegiatan yang katanya untuk mempererat solidaritas masyarakat itu bagus, namun jangan sering-sering karena biayanya mahal.

“Saya dengar anggaran untuk acara ini sangat besar. Saya baca di media, jumlahnya mencapai Rp18 miliar. Pakai duit rakyat [APBD] lagi. Ya, kalau kembali digelar ya sebisa mungkin dananya jangan sebesar itu. Jangan sering-sering. Paling setahun sekali,” ujar Murtiningsih, seperti yang dilansir dari solopos.com.

Dia tahu tujuan dari digelarnya acara Apel Kebangsaan itu. Salah satunya, yakni mempererat kerukunan masyarakat di Jateng menjelang pelaksanaan pemungutan suara Pemilu serentak 2019.

Kendati demikian, tujuan kedatangannya mereka bukanlah untuk menyemarakkan Apel Kebangsaan. Melainkan, untuk mengikuti pengajian Habib Luthfi.

“Kita ke sini untuk pengajian Habib Luthfi. Jemaah Maratus Sholihah sebulan sekali, setiap Sabtu Wage, selalu menghadiri acara Habib Luthfi, di kota mana pun,” imbuh anggota jemaah Maratus Sholihah lainnya yang enggan disebutkan namanya.

Habib Luthfi memang menjadi salah satu tokoh agama yang dihadirkan dalam Apel Kebangsaan Kita Merah Putih. Selain Habib Luthfi, ulama lain yang hadir antara lain, yakni K.H. Maimoen Zubair, Gus Muwafiq, K.H. Munif Zuhri, dan K.H. Ahmad Daroji.

Habib Luthfi bin Yahya dalam orasinya mengatakan, Bangsa Indonesia harus bangga memiliki Merah Putih. Karena di dalamnya, memiliki tiga hal, yakni sebagai kehormatan bangsa, harga diri bangsa dan jatidiri bangsa.

Baca juga: Dapat Kucuran Dana Rp2,52 Trliiun, Pembebasan Lahan Tol Probowangi Dikebut

“Dari dulu, merah putih tidak akan berubah meski dilekang oleh zaman. Kalau sudah kumpul seperti ini dan berkomitmen untuk menjaga NKRI, menjaga Pancasila, menjaga Merah Putih, maka Indonesia akan tetap jaya,” tandasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berharap, acara itu mampu membuat masyarakat memiliki toleransi yang tinggi.

“Mereka yang datang ke acara ini terlihat bahagia. Pesan bahagia menjadi penting ditengah kondisi saat ini. Maka sebenarnya, seperti inilah seharusnya wajah Indonesia,” tegasnya, Minggu (17/3).

Ganjar menerangkan, di tengah kondisi bangsa yang mulai terpecah karena suhu politik yang memanas, maka persatuan, kesatuan saling menghormati dan menghargai, baik di dunia nyata mau pun virtual—termasuk di medsos—sekarang ini sangat penting sekali.

“Harapannya setelah acara ini, semua masyarakat dapat menunjukkan toleransi yang tinggi, yang tulus. Sehingga kalau kita berbeda pilihan baik dalam [pemilihan anggota] legislatif, pilpres, biasa saja, ndak papa. Jangan sampai bermusuhan, ya kira-kira gunakanlah kata-kata yang baik,” tambahnya.

Seperti diketahui, Apel Kebangsaan: Kita Merah Putih digelar untuk mempersatukan masyarakat. Sejumlah tokoh dihadirkan untuk mengisi orasi, yakni Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, K.H. Maimun Zubair, Habib Luthfi, Gus Muwafiq, K.H. Munif Zuhri, Prof. Mahfud MD, K.H. Ahmad Daroji, Uskup Rubiatmoko (Keuskupan Agung Semarang), Pendeta Eka Laksa (PGI), Nyoman Suraharta (PHDI), Go Boen Tjien (Matakin), dan Pujianto (Walubi).

Lantaran menghabiskan biaya Rp 18 miliar, banyak masyarakat yang mengkritik acara ini. Bahkan dianggap menghamburkan uang rakyat. Wajar jika akhirnya ada warga Semarang yang berharap biaya acara semacam Apel Kebangsaan bisa diminimalisasi. (Nug/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*