JoSS, JAKARTA – Djaduk Ferianto menggandeng Komunitas Seni Kuaetnika, yang didirikannya di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (23/2) malam.
Menariknya, kali ini Djaduk menciptakan karya musik keren yang mengawinkan antara alat musik tradisional dan instrumen modern. Hasilnya tentu enak didengar dan memukau para penonton.
Uniknya lagi, dia juga mengaransemen lagu dengan menggunakan mainan anak dan benda-benda peralatan dapur. Perpaduan musik yang kreatif ditampilkan dalam panggung yang mewah.
Dalam konser bertajuk “Sasaji Nagari” ada 10 lagu yang dibawakan. Antara lain Sasaji Nagari, Ulan Andung-Andung, Batanghari, Kadal Nongak, Lalan Belek, Doni Dale, Anak Khatulistiwa, Made Cantik, Sigule Pong dan Air Kehidupan.
Jangan heran, aransemen musik dari lagu-lagu tersebut sangat memukau. Karena dikemas dengan aliran musik jazz, etnik modern hingga blues. Kemudian ada perpaduan warna musik dari Sumatera, Bali, Jawa yang disatukan dengan indah.
“Sasaji Nagari” diartikan sebagai puji-pujian dan doa yang dipersembahkan untuk negeri. Saat ini kondisinya negeri kita dinilai tengah mengalami kegelisahan dan sedang sedih.
Baca juga: Anang Hermansyah Sepakat Tak Lanjutkan RUU Permusikan
Meskipun konteksnya menjaga serta mendoakan negara Indonesia agar damai, Djaduk Ferianto mengatakan, tidak ada kaitannya dengan huru-hara tahun politik. Dia murni ingin menjaga aset negara yang dimiliki, khususnya budaya dan tradisi.
“Apa yang kami kerjakan ini tidak kaitannya dengan berpolitik. Kami ingatkan kembali kepada masyarakat, kita merayakan kebebasan kemerdekaan. Kami hadir tidak untuk kekuasaan,” tuturnya kepada Okezone ditemui di TIM, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2).
Di Indonesia, sebut Djaduk, ada beraga etnis dan suku bangsa, serta agama. Ada suku Jawa, Sunda, Minang, Ambon, hingga Batak. Pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, sampah Konghucu pun ada.
“Semua punya hak sama, kalau ada mayoritas harus saling berdialog. Perbedaan bukan permusuhan. Jadi kalau beda pendapat, ada satu perdebatan bukan berarti musuh,” kata dia.
Pesan dari konser ini, menurut Djaduk, budaya dan tradisi Indonesia harus dijaga selamanya. Sebabnya, pendiri bangsa di zaman sejarah sudah susah payah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Kami ingatkan inilah yang kita punya jangan sampai hilang. Saya titip Indonesia kepada generasi milenial,” tuturnya
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengatakan, Kuaetnika sering memberi kejutan untuk para penikmat musik. Karena setiap penampilannya di panggung dijamin unik dan bikin penonton kagum.
“Para personilnya selalu menggali dan memadukan musik tradisi dengan instrumen elektrik. Harmoninya unik, indah dan mudah didengar penikmat musik, khususnya generasi muda,” kata Renitasari. (Wiek/lna)

Leave a Reply