
JoSS, JOGJA – Progres pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo saat ini sudah memasuki tahapan konstruksi dengan pencapaian sekitar 10%. Guna mendukung keterisian ruang komersial Angkasa Pura I gandeng sejumlah UMKM asli Jogja.
Direktur Pemasaran AP 1 Devi Suradji menyatakan keinginannya agar hasil produk Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) asal DIY bisa memanfaatkan ruang komersil di Bandara Baru Kulonprogo ini.
Menurut dia, produk UMKM asal DIY terbukti berkualitas dan layak untuk dipromosikan.
“Etalase terbaik untuk produk UMKM ya bandara, jadi kita dorong pengembangannya dalam bentuk ritel,” jelas Devi di Hotel Tentrem, Rabu (14/11), seperti dikutip dari Tribunnews.
Selain produk UMKM, Devi juga mengusahakan agar porsi tenant makanan dan minuman (food and beverage) bisa imbang dengan tenant ritel.
Namun ia tidak menampik bahwa sektor food and beferage (F&B) masih menjadi lahan bisnis paling basah, terutama bagi para penumpang di bandara. “Berdasarkan kajian yang kami lakukan, 60% penumpang lebih senang jika ada produk F&B,” ungkap Devi.
Menjelang dibukanya NYIA pada April 2019 mendatang, Devi masih terus berdiskusi dengan sejumlah pihak terkait tentang penataan area komersil di dalam bandara.
Baca juga: Trase Belum Kelar Proyek Tol Probolinggo – Banyuwangi Berpotensi Mundur
Sementara itu terkait progress pembangunan Bandara Kulonprogo Project Manager NYIA Taochid Purnomo Hadi menyatakan progres pembangunan bandara saat ini sudah mencapai 10%.
Meski demikian Taochid mengupayakan agar seluruh bagian dan bangunan vital NYIA dikerjakan secara bersama-sama untuk mencapai target. “Insya Allah penyelesaiannya tepat waktu sesuai target, yaitu April 2019,” katanya.
General Manager AP 1 Yogyakarta Agus Pandu Purnama optimis NYIA bisa mulai beroperasi pada April 2019 mendatang.
Mengingat fisik bandara belum 100% rampung pada April 2019 nanti, Pandu menyebutkan penerbangan internasional akan menjadi prioritas terlebih dahulu. “Seluruh penerbangan internasional yang ada di Adisutjipto akan kita pindahkan ke NYIA,” katanya.
Lebih lanjut, Pandu menyatakan Bandara Adisutjipto selanjutnya berfungsi sepenuhnya sebagai bandara domestik, status internasionalnya pun akan dicabut.
Ia juga menyebutkan terbukanya peluang maskapai domestik untuk membuka rute dari kedua bandara tersebut.
“Akan kita terapkan sistem sharing rute, jadi aktivitas Adisutjipto tetap normal seperti saat ini,” terang Pandu. (lna)

Leave a Reply