Pemuda, Hoax dan Kewirausahaan

kewirausahaan
Tingginya minat generasi muda atas teknologi informasi harus diimbangi kemampuan memfilter informasi guna mendukung kewirausahaan.

JoSS, SEMARANG – Tingginya minat generasi muda atas teknologi informasi harus diimbangi kemampuan memfilter informasi. Selain itu harus dimanfaatkan guna mendukung kewirausahaan.

Demikian dikatakan Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi dalam Dialog bersama Parlemen dengan tema ‘Bangun Pemuda Satukan Bangsa’ di Semarang, Kamis (1/11). Dialog Prime Topic tersebut digelar Sekretariat DPRD Jateng bekerjasama MNC Trijaya FM Semarang.

“Generasi muda harus lebih baik lagi saat terlibat dalam pembangunan,” tegas Rukma.

Menurut politisi PDI Perjuangan ini, generasi muda saat ini lebih konsen dengan teknologi internet, khususnya di media sosial. Minat mereka tentu harus sejalan dengan kemampuan literasi agar tidak berujung pada penyebaran informasi hoax. Termasuk pemahaman etika berkomunikasi di dunia maya

“Tidak hanya hoax, ujaran kebencian juga masih sering dilakukan kalangan muda kita. Untuk itu, semua pihak harus mampu terlibat mengatasi persoalan tersebut agar pemuda bisa lebih aktif lagi dalam pembangunan bangsa,” beber dia.

Terkait keterlibatan di pembangunan bangsa, Rukma menyebut pemuda harus punya semangat kewirausahaan. Di sinilah peran dari pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota untuk memfasilitasi sekaligus mendorong jiwa enterpreneurship kaum muda secara aplikatif.

Ditambah minat pemuda di dunia maya maka rintisan wirausaha akan mampu berkembang menjadi lapangan pekerjaan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

“Jika dari segi permodalan belum mampu, maka pemerintah bersama pihak-pihak terkait bisa membantu secara stimulan,” imbuh dia.

Baca juga: Dirancang Tahan Gempa Pembangunan PLTU Batang Capai 57,2%

Senada disampaikan Ketua KNPI Jateng Tino Indra W. Bagi Indra generasi muda sekarang cenderung melakukan komunikasi melalui gadget. Hal itu memiliki dampak negatif berupa anti-sosial.

“Dampaknya dengan melakukan hoax atau ujaran kebencian melalui medsos itu sangat besar. Harus ada proteksi lebih untuk menanganinya,” kata Tino.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata (Dinporapar) Jateng Urip Sihabudin mengatakan selama ini ada 11 masalah yang dihadapi generasi muda. Salah satu yang paling pokok yakni masalah ekonomi. Data menyebutkan, dari 7,6 juta anak-anak muda, 2,8 juta diantaranya berasal dari keluarga miskin.

Dari angka tersebut, lanjut dia, sebanyak 1,5 juta menganggur. Dengan kondisi itu, pihaknya berusaha melakukan program pemberdayaan agar bisa berwirausaha.

“Tercatat, dari angka 1,5 juta itu, sekitar 300 ribu didata dan diklaster masing-masing 5 orang untuk dilatih ketrampilan sesuai minat dan bakatnya. Upaya itu kami koordinasikan dengan kabupaten/ kota dan pusat. Apabila berhasil, maka kami mampu mencapai tujuan utama yakni kesejahteraan masyarakat,” tukas dia (joy/lna/ADV)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*