Jumlah Kematian Global Akibat Covid-19 Tembus 4 Juta, Varian Delta Mendominasi

Ilustrasi (Foto: competitiveindia.com)

JoSS, NEW YORK – Jumlah kematian secara global menyentuh angka 4 juta orang akibat Covid-19. India menyumbang jumlah kematian secara global sebesar 26 persen dari 3 juta menjadi 4 juta orang di dunia. Lalu diikuti oleh Brazil sebanyak 18 persen.

Sebaliknya, Amerika Serikat dengan 332 juta vaksin yang telah disuntikkan kepada warganya, hanya berkontribusi 4 persen dari total kematian di dunia. Adapun Inggris melaporkan 1.000 kematian akibat Covid-19.

Kondisi ini diperparah dengan semakin lebarnya disparitas akses vaksin dan varian baru yang lebih menular.

“Keadilan dalam mengakses vaksin adalah hal yang harus dicapai saat ini. Itu [vaksinasi] adalah sangat penting. Sampai semuanya sudah divaksin, maka semua orang masih dalam bahaya,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Menurutnya, kehilangan tragis sebanyak 4 juta orang di seluruh dunia harus memacu upaya semua orang untuk pulih dan bangkit dari pandemi. Penularan yang lebih cepat akibat varian Delta juga memberikan tekanan bagi negara kaya dengan tingkat vaksinasi yang rendah.

Sydney, Australia, bahkan harus memperpanjang periode lockdown hingga satu pekan ke depan untuk mencegah kasus harian melejit. Saat ini, kasus Covid-19 di Australia mencapai 400 orang.

Taiwan, salah satu negara yang mampu menekan laju penularan Covid-19 dengan sangat baik pada tahun lalu, juga harus menelan pil pahit. Negara ini melaporkan jumlah kematian menembus angka 700 orang pada tahun ini.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan varian Delta dari SARS-CoV-2 kini telah terdeteksi di sedikitnya 104 negara. Dalam beberapa bulan mendatang, WHO menilai mutasi Covid-19 tersebut akan menjadi varian dominan secara global setelah menyebar dengan cepat di negara-negara dengan cakupan vaksinasi yang rendah hingga tinggi.

Baca juga: Covid-19 Varian Delta Merebak, Australia Kunci Wilayah Sydney dan Darwin

Dilansir dari Antara, Varian Delta kini menjadi penyebab gelombang kedua virus yang ganas di India, dengan infeksi baru harian pada bulan itu melebihi 400.000.

Puluhan negara termasuk Afrika Selatan, Bangladesh, Indonesia, Thailand telah menerapkan larangan perjalanan baru atau pembatasan yang lebih ketat dalam upaya menghentikan penyebaran virus. Varian Delta pertama kali terdeteksi di India pada Oktober 2020.

Hingga 1 Juni, sudah menyebar ke 62 negara. Dua minggu kemudian, telah ditemukan di 80 negara dan pada 4 Juli jumlahnya meningkat menjadi 104. Kazakhstan, Laos, Latvia, Lebanon, Namibia, Oman, dan Sierra Leone adalah negara terbaru yang mengonfirmasi keberadaan varian Delta.

Seperti semua virus, coronavirus SARS-CoV-2 berkembang. Terkadang, varian baru ini muncul dan kemudian menghilang. Di lain waktu, variasi memungkinkan virus menyebar lebih mudah dan cepat yang dapat menyebabkan lebih banyak kasus Covid-19.

Peningkatan kasus telah menciptakan beban yang lebih besar pada sumber daya kesehatan suatu negara dan dapat menyebabkan lebih banyak rawat inap dan kematian.

WHO telah mengidentifikasi empat varian yang menjadi perhatian yakni Alpha, Beta, Gamma dan Delta serta empat varian yang menarik yakni Eta, Iota, Kappa dan Lambda. Varian Delta diperkirakan antara 40 dan 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha, yang pertama kali terdeteksi di Inggris, menurut sejumlah penelitian.

WHO menyatakan lebih banyak data penelitian diperlukan untuk mengkonfirmasi apakah varian Delta menyebabkan kasus yang lebih parah daripada varian lain yang diketahui. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*