Budayawan Prie GS Meninggal Dunia Karena Serangan Jantung

Foto: tagar.id

JoSS, SEMARANG – Budayawan asal Kendal, Jawa Tengah, Supriyanto GS atau yang akrab Prie GS meninggal dunia pada pagi hari ini, Jumat (12/2/2021). Motivator berusia 58 tahun itu menghembuskan nafas terakhir pada pukul 06.30 WIB akibat serangan jantung.

Kabar duka tersebut disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri atays Gus Mus yang mengucapkan duka cita di akun Instagram-nya.

“Innã liLlahi wainna ilaihi raji’un. Saudaraku tercinta yang baik dan selalu ingin membahagiakan orang lain, Prie GS, hari ini dipanggil kehadirat-Nya,” kata Gus Mus dalam akun Instagram-nya, Jumat (12/2/2021).

Gus Mus mengaku terkejut mendengar kabar meninggalnya Prie Gs. Dia berharap almarhum diterima disisi Allah SWT.

“Kita betul-betul terkejut dan merasa sangat kehilangan. Semoga Allah merahmati dan membahagiakannya. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’ãfihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzűlahu waj’alil jannata matswãh…Al-Fãtihah,” tulis Gus Mus.

Selain itu, keluarga almarhum juga diberikan kesabaran dan ketabahasan. “Semoga keluarga diberi kekuatan lahir-batin. ‘AzhzhamaLlãhu ajrahum wa ahsana aza-ahum,” tulis Gus Mus.

Melansir laman resmi Unnes, budayawan kelahiran Kendal, 3 Februari 1964 ini mengawali kariernya menjadi wartawan di Harian Umum Suara Merdeka, Semarang, Jawa Tengah. Prie juga dikenal sebagai kartunis, penyair, penulis, dan public speaker di berbagai seminar.

Selepas SMA, Prie GS menekuni dunia kartunis, dan sempat belajar khusus kepada kartunis kawakan dari Harian Umum Kompas, G.M. Sudarta. Perjalanan karier Setelah lulus dari bangku SMA, Prie GS melanjutkan pendidikan di jurusan seni musik, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Semarang. Di tempat ini, kemampuannya semakin terasah.

Saat menjadi wartawan, Prie lebih banyak memegang rubrik bermuatan kesenian, dengan rutin setiap minggunya menggambar kartun di surat kabar tempatnya bekerja.

Baca juga: Mantan Menteri Kehakiman Prof Muladi Wafat, Rektor UNDIP: Kami Kehilangan Guru Besar Terbaik

Dituliskan situs Taman Budaya Jateng, Prie pernah menjadi pemimpin majalah wanita Cempaka. Walau sempat menjadi mahasiswa jurusan seni musik, Prie GS memilih menjadi seorang kartunis hingga sekarang. Prie GS juga pernah menggelar pameran kartun di Tokyo, Jepang atas undangan The Japan Foundation.

Banyak ilmu yang didapat di sana, terutama saat mempunyai kesempatan berdiskusi dalam satu meja dengan para komikus dan animator tersohor di negeri itu. Prie juga pernah menjajal kemampuannya sebagai aktor dengan bergabung di Teater Dhome Semarang saat menggarap repertoar Umang-umang atawa Orkes Madun karya Arifin C. Noer. Di Teater Aktor Studio, Prie bersama Joshua Igho menjadi ilustrator musik untuk repertoar Jembatan Mberok.

Menjalani hidup sebagai wartawan, penulis kolom, dan kartunis semakin menambah wawasan Pri GS luas, dan ini yang membawanya terjun sebagai public speaker. Prie sering diundang sebagai pembicara, motivator, dan pengasuh acara-acara bertema budaya.

Dilansir dar Kompas.com, kemampuannya mengolah rasa menjadi modal yang terus diminati oleh banyak lembaga untuk meminta siraman-siraman bernas darinya, antara lain Markas Besar TNI Angkatan Laut Cilangkap, memberikan refleksi sosial di hadapan para jenderal dan perwira Angkatan Laut.

Tak hanya itu, berbagai perusahaan besar juga pernah mengundangnya seperti PT Telkom, PT Coca-Cola, Indonesiai Power, Bank Indonesia, PT PLN, PT Telkomsel, dan lain-lain. Sementara itu, di ranah hiburan radio dan televisi, sampai sekarang Prie juga menjadi host untuk acaranya refleksi.

Banyak karya-karya yang telah diterbitkan baik puisi, cerpen, kolom, kartun, maupun buku-buku humor, karena sejak memulai debutnya sebagai seniman, setiap pekan dia selalu menulis dan menggambar untuk diterbitkan di media massa.

Sejumlah karya buku-bukunya antara lain: Nama Tuhan di Sebuah Kuis (2003) Merenung Sampai Mati (2004) Mari Menjadi Kampungan (2005) Hidup Bukan Hanya Urusan Perut (2007) Ipung, novel motuivasi Pembangkit Kepercayaan Diri (2008) Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia (2009) Indonesia Jungkir Balik (2012) Hidup ini Keras, Maka Gebuklah (2012) Waras di Zaman Edan (2013) Indonesia Tertawa, Hidup Boleh Susah, Jiwa Tetap Bahagia (2014) Mendadak Haji (2016). (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*