
JoSS, WELLINGTON – Menteri Kehakiman Selandia Baru Andrew Little menyebutkan gelombang serangan siber (Cyber Attack) yang saat ino melanda negaranya adalah yang terbesar sepanjang sejarah. Sejumlah layanan yang diserang antara lain pasar saham hingga layanan cuaca. Bahkan pasar saham sempat terhenti beberapa jam akibat serangan siber.
Little mengatakan telah diberitahu bahwa volume data yang digunakan oleh para pelaku belum pernah terjadi sebelumnya. “Aksi serangan siber kali ini merupakan yang terbesar yang pernah terjadi di Selandia Baru,” katanya dilansir dari CNNIndonesia.com.
Badan mata-mata asing Selandia Baru, Biro keamanan Komunikasi Pemerintah yang membantu proses penyelidikan berupaya melindungi perusahaan yang menjadi sasaran aksi serangan siber.
Pekan lalu, serangan siber yang terjadi selama empat hari sempat menghentikan aktivitas perdagangan saham hingga beberapa jam. NZX mengatakan penghentian perdagangan saham dilakukan untuk menjaga integritas saham karena serangan siber.
Bursa saham Selandia Baru anjlok untuk hari keempat pada hari Jumat (28/8/2020). Menurut operator bursa NZX Ltd, kondisi ini terjadi setelah adanya masalah konektivitas jaringan terkait dengan dua serangan siber yang ditargetkan terhadap bursa pada minggu ini.
Melansir Reuters, tidak ada kejelasan tentang siapa di balik serangan tersebut dan mengapa Selandia Baru yang menjadi sasaran. Akan tetapi, menurut para ahli, kegagalan berulang untuk menghentikan serangan telah menimbulkan pertanyaan tentang sistem keamanan negara.
Baca juga: Perpanjangan Pembatasan Sosial Malaysia, Warga Indonesia, Filipina dan India Dilarang Masuk
NZX sebelumnya mengatakan bahwa transaksi pasar saham akan dibuka kembali menyusul langkah-langkah yang diberlakukan untuk menjaga konektivitas sistem setelah terjadi serangan dunia maya dari luar negeri.
“Kami saat ini mengalami masalah konektivitas yang tampak serupa dengan yang disebabkan oleh serangan DDoS parah dari luar negeri pada minggu ini,” kata NZX dalam sebuah pernyataan kepada Reuters.
Penghentian perdagangan saham diyakini juga membuat para penyerang hanya menemukan sedikit celah pada operasional pasar saham.
“(Serangan) itu memotivasi mereka melanjutkan serangan ke organisasi lain (di luar pasar saham),” kata Little seperti mengutip dari Associated Press.
Little mengatakan pemerintah Negeri Kiwi saat ini kesulitan melacak pelaku serangan yang terjadi selama beberapa pekan terakhir yang diarahkan melalui ribuan perangkat komputer.
Menurutnya, satu jalur investigasi yakni melalui surel yang dikirim ke orang-orang di beberapa organisasi yang ditargetkan untuk meminta tebusan sebagai imbalan untuk menghentikan serangan. Akan tetapi, Little mengingatkan warga yang menerima surel tersebut tidak mentransfer sejumlah uang yang diminta pelaku.
Ia mengatakan bahwa serangan itu merupakan peringatan bagi semua perusahaan dan organisasi yang berhubungan dengan pelanggan.
Hanya beberapa organisasi yang menjadi sasaran peretasan pada satu waktu. Sebagain besar mampu menangkis serangan yang terjadi ke situs mereka hingga memberikan optimisme negara bisa mengatasi gelombang serangan siber tersebut. (lna)

Leave a Reply