JoSS, REMBANG – Ketua Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) Korwil Jateng Mindo Sitorus menyebut investor asal Perancis telah menginvestasikan dana sebesar 100 juta euro atau sekitar Rp1,55 triliun untuk pengembangan pelabuhan di Rembang dan Kendal.
Dia menambahkan pengembangan itu untuk memudahkan akses keluar-masuk industri kapur dan garam.
Mindo yang juga merupakan Direktur Utama PT Pelabuhan Rembang Kencana (PRK) yang berlokasi di Sluke, Rembang (Jateng) mengatakan pada Desember 2019 lalu telah melakukan achievement dengan keberhasilan mendapatkan calon investor dari Perancis.
“Kami telah menandatangani joint operation agreement dengan Soletanche Bachy International dari Vinci Group, sebuah perusahaan konstruksi berskala internasional yang sangat berpengalaman dalam pembangunan pelabuhan,” ujar Mindo Sitorus dalam keterangan tertulisnya, Jumat (28/8/2020).
Pengembangan pelabuhan Kendal dan Rembang tersebut, menurut Mindo, sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo pada pidato di gedung MPR/DPR/DPD RI beberapa waktu lalu, untuk mendorong industri yang mampu menarik investor berkualitas, bersinergi dengan masyarakat setempat dan mampu membuka lapangan pekerjaan secara luas.
Dalam seminar daring Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI), Mindo menguraikan bahwa saat ini PT Pelabuhan Rembang Kencana telah mendapat dukungan dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait rencana kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk pengembangan Klaster Inovasi Rembang di Pelabuhan Rembang.
Baca juga: Kemenhub Akan Membangun 1.321 Pelabuhan dan 55 Terminal Terintegrasi Dengan Kawasan Industri
“Kami sangat mendukung Pelabuhan Rembang dijadikan klaster inovasi oleh Kemenristek/BRIN, mengingat Kabupaten Rembang memiliki potensi sumber daya alam berupa kapur dan garam yang belum diolah secara optimal,” jelas Mindo.
Dia menuturkan, Indonesia seharusnya tidak terus bergantung dari impor kapur dan garam. Karena, sebetulnya Ibu Pertiwi memiliki kandungan sumber daya yang melimpah, khususnya di Rembang.
Kegiatan pilot project klaster inovasi di Rembang, kata dia, akan dipimpin oleh BPPT yang telah melakukan penelitian mendalam tentang pengolahan kapur dan garam sehingga memiliki nilai tambah yang tinggi dalam bentuk komoditas yang siap pakai.
“Dari sini diharapkan bisa mendorong munculnya komoditas-komoditas lain sebagai output dari industri yang menggunakan kapur dan garam sebagai bahan baku atau bahan pembantu,” urainya, dilansir dari Antara.
Mindo menegaskan keberadaan pelabuhan akan membantu meningkatkan kemudahan keluar masuk bahan baku maupun produk jadi dari industri-industri yang berkembang di Kabupaten Rembang dan kabupaten-kabupaten di sekitarnya.
“Dengan demikian kami bisa berkontribusi dan membantu pemerintah menjadi bangsa yang lebih mandiri dengan mengurangi ketergantungan impor kapur dan garam pada umumnya, dan membantu Pemkab Rembang dalam meningkatkan perekonomian daerahnya melalui kerja sama swasta dengan pemerintah,” tegas Mindo. (lna)

Leave a Reply