Mengenang Sapardi Djoko Damono, Sajaknya Bakal Diangkat Jadi Musikal Puisi

Sapardi Djoko Damono | Foto: thejakartapost.com

JoSS, JAKARTA – Setahun lalu, Sapardi Djoko Damono dan sahabatnya yang akrab di dunia teater Agus Noor telah merancang sebuah musikal puisi untuk memperingati 80 tahun usia maestro puisi Tanah Air ini. Namun takdir berkata lain, sang penyair wafat pada Minggu (19/7).

Pencipta syair ‘Aku Ingin’ itu telah dimakamkan dimakamkan di Taman Pemakaman Giritama, Giri Tonjong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Minggu (19/7) sore usai ibadah salat ashar.

Sebelum dimakamkan, jenazah akan disemayamkan di Kompleks Dosen UI Ciputat Jalan H. Juanda No. 113, Tangerang Selatan.

Sang sahabatpun berencana mewujudkan mimpi itu. Beberapa puisi karya Sapardi Djoko Damono bakal diangkat menjadi musikal puisi. Agus Noor mengatakan musical puisi ini merupakan bentuk penghargaan sekaligus juga penghormatan bagi sang penyair.

“Kami sudah ngobrol sejak tahun lalu, sejak September. Waktu itu niatnya untuk 80 tahun Pak Sapardi. Beliau setuju. Rencananya pada bulan Juni, tetapi pandemi datang, jadi tertunda,” cerita Agus seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Minggu (19/7).

Agus menjelaskan, musikal puisi ini bakal merangkum sajak-sajak Sapardi yang dikemas menjadi sebuah cerita dengan konsep musikal. Cerita yang diangkat bukan ‘Hujan Bulan Juni’ yang sudah populer, melainkan puisi-puisi Sapardi yang berangkat dari taman.

Semasa hidup, Sapardi banyak melahirkan sajak-sajak yang terinspirasi dari unsur-unsur di taman. Adegan dan percakapan menurut Agus Noor, bakal dibangun dari bait-bait puisi tersebut.

Baca juga: Pencipta Lagu Anak Papa T Bob Meninggal, Trio Kwek Kwek Ungkapkan Kesedihan

“Ide dasarnya dari banyak sekali puisi-puisi Sapardi yang quotable dan dijadikan dialog. Saya berangkat dari seorang laki-laki tua yang setiap hari duduk di taman menunggu seseorang yang dicintainya,” ucap Agus.

Rencananya, musikal puisi itu bakal diproduseri oleh Happy Salma. Agus dan Happy kini tengah berdiskusi mengenai kelanjutan produksi musikal puisi Sapardi tersebut.

“Kalau jawaban Happy, dia bersemangat karena kami seperti utang janji untuk mewujudkannya. Kalau bisa tahun ini,” tutur penulis yang baru saja melahirkan buku ‘Kisah-kisah Kecil dan Ganjil’ tersebut.

Agus mengaku sudah lama dekat dengan sosok Sapardi. Sebagai seorang pribadi, Agus menilai Sapardi merupakan tokoh yang ramah dan mampu bergaul dengan semua kalangan.

Di usia yang tak lagi muda dan menyandang status maestro, Sapardi tak pernah menyombongkan diri, terlebih pelit ilmu.

Sedangkan sebagai seorang penyair, Agus menilai Sapardi merupakan sosok penting di Indonesia yang mampu menyuarakan kegelisahan masyarakat. Puisi Sapardi mewakili perasaan, hasrat, kerinduan, mimpi, serta kegelisahaan, yang mampu diterima baik di tengah masyarakat.

“Jarang sekali penyair yang karyanya bisa diterima dan Pak Sapardi mampu mengartikulasikan itu,” ungkap Agus.

Sebelumnya, puisi-puisi Sapardi juga telah dilagukan oleh duo musisi dengan nama panggung AriReda. Beberapa sajak yang dijadikan musikalisasi puisi oleh Ari Malibu dan Reda Gaudiamo di antaranya Hujan Bulan Juni, Kuhentikan Hujan, Gadis Kecil, Aku Ingin, Pada Suatu Hari Nanti dan di Restoran. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*