
JoSS, SOLO – Kota Solo kembali mencacatkan rekor tertinggi penambahan jumlah kasus Covid-19 sebanyak 43 kasus baru terkonfirmasi positif covid-19 dalam sehari. Klaster RSUD dr Moewardi masih mendominasi.
Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Solo, Ahyani mengungkapkan, dari klaster RSUD dr Moewardi yakni sebanyak 29 orang.
“Dari hasil tracing, dominasi masih dari klaster RSUD dr Moewardi. Kemudian 11 orang dari warga biasa dan tiga sisanya dari klaster tahu kupat,” urainya, Jumat (17/7/2020) malam.
Menurut Ahyani, kasus tambahan positif dari klaster RSUD dr Moewardi terus bertambah karena tracing dilakukan secara masif. Hal sama dilakukan pada klaster hotel. Namun sampai saat ini belum keluar hasilnya.
“Untuk yang hotel masih belum semua keluar hasilnya. Kita masih menunggu hasilnya,” imbuhnya.
Dengan tambahan tersebut, kumulatif kasus terkonfirmasi positif Covid-19 Solo menjadi 166 orang. Jumlah ini hampir menyamai jumlah kasus positif Covid-19 Kabupaten Sukoharjo yang selama ini menjadi daerah yang kasus terbanyak di Soloraya. Hingga Jumat malam, jumlah terkonfirmasi positif corona di Sukoharjo mencapai 169 kasus.
Tambahan kasus positif corona Kota Solo pada Jumat terbagi menjadi beberapa klaster selain RSUD dr Moewardi, yakni klaster Kupat Tahu, Klaster Pasar Harjodaksino dan Klaster Penumping-Karangasem.
Selebihnya, kasus baru positif Covid-19 Kota Solo pada Jumat merupakan hasil pengembangan tracing kasus lama dan kasus mandiri dari pasien dalam pengawasan (PDP) yang naik kelas.
Baca juga: Penjual Tahu Kupat di Solo Jadi Klaster Baru Covid
Gugus Tugas masih terus mematangkan Peraturan Walikota (Perwali) berisi sanksi bagi masyarakat yang enggan menerapkan protokol kesehatan, seperti tidak memakai masker. Hal ini untuk mencegah bertambahnya kasus positif Covid-19 di Kota Solo.
Terkait hal itu, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo membuka peluang karantina wilayah skala lokal di Kota Bengawan menyusul melonjaknya jumlah kasus positif Covid-19 dalam beberapa hari terakhir, juga munculnya klaster-klaster baru.
Dia merinci, karantina lokal dilakukan di wilayah temuan kasus-kasus itu, seperti Klaster Kupat Tahu, misalnya, berpusat di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan.
Begitu pula Klaster Pasar Harjodaksino dan Penumping-Karangasem. Selain itu, Wali Kota juga membuka kemungkinan karantina kelurahan dengan jumlah kasus tertinggi, seperti Jebres dan Mojosongo.
“Kami sudah pernah melakukan karantina wilayah saat Klaster Joyotakan dulu dan berhasil. Terputus rantainya, enam orang sembuh semua. Kemudian Pembatasan Kegiatan Masyarakat [PKM] sebenarnya juga sudah kami lakukan,” katanya.
Namun demikian, kata Wali Kota Solo itu, kegiatan yang paling penting untuk mengiringi karantina atau lockdown lokal itu adalah tracing yang dilanjutkan uji swab. Tracing ini untuk kontak erat dan kontak dekatnya.
Lingkup RT/RW
Karantina wilayah tersebut bisa hanya menyasar lingkup RT/RW atau tidak seluruh wilayah kelurahan karena terlalu luas. Namun, karantina seluruh kelurahan bisa dilakukan jika kasusnya terlampau tinggi. (lna)

Leave a Reply