Tak Perlu Lockdown, Risma Belajar Dari Cara Korsel Hadapi Covid-19

Tri Rismaharini | tempo.co

JoSS, SURABAYA – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam menghadapi penyebaran virus corona di wilayahnya belajar dari cara Korea Selatan. Menurutnya Surabaya tidak perlu lockdown, namun masyarakat harus disiplin dalam menjaga kesehatan.

“Kita coba lihat Korea Selatan yang membuktikan tidak perlu lockdown. Tapi yang penting adalah kita disiplin,” katanya, belum lama ini.

Faktor ekonomi menjadi pertimbangan Risma dalam menghindari pemberlakuan atau penetapan isolasi kota atau lockdown. “Kalau lockdown ekonomi habis nanti,” ujarnya.

Risma juga menjelaskan tentang dua orang di Surabaya yang dikabarkan terjangkit virus Covid-19. Menurutnya mereka tidak positif Covid-19 dan sekarang sudah dipulangkan, satu orang bukan warga Surabaya.

Selain itu, ia menambahkan kalau pihaknya telah berdiskusi soal meliburkan sekolah dan akhirnya melalui Dinas Pendidikan Surabaya memutuskan untuk meliburkan siswa tingkat TK,SD dan SMP.

“Kalau memang dirasa perlu akan kita lakukan. Tapi sebenarnya saya ingin membagikan vitamin untuk jaga imunitas kepada mereka. Tapi kalau diliburkan sulit untuk mencari mereka,” katanya, seperti dikutip dari Kabar24.com.

Selain itu, Risma mengaku sudah mengeluarkan surat edaran imbauan kepada warga yang bepergian ke luar negeri. “Sebaiknya ditunda dulu atau kalau memang mendesak sebaiknya mengkarantina diri sepulang dari luar negeri,” katanya.

Baca juga: Usia 80 Tahun Dr Handoko Gunawan Tetap Mengabdi di Garda Terdepan Tangani Pasien Covid-19 

Menurut dia yang paling penting menghadapi wabah virus Covid-19 adalah disiplin menjaga hidup sehat. Ia kembali mengingatkan warga agar segera memeriksakan diri ketika merasa tidak sehat.

“Jangan sampai datang ke rumah sakit ketika dalam kondisi akut karena bisa terlambat nanti. Saya tegaskan lagi pemeriksaannya gratis. Covid-19 bisa disembuhkan,” katanya.

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Surabaya dr Akmarawita Kadir sebelumnya mengatakan pihaknya meminta pemerintah kota mempertimbangkan perlu dan tidaknya mengambil kebijakan lockdown atau isolasi.

Ia mengatakan ada beberapa hal penting yang harus disiapkan oleh pemkot jika harus mengambil keputusan lockdown antara lain adalah kepatuhan warga, ketegasan aparat, menjamin ketersediaan bahan pokok termasuk makanan bagi warga tidak mampu, kekuatan informasi dan komunikasi.

“Salah satu contoh pengendalian yang menurut saya belum berhasil dan butuh perhatian adalah langka dan mahalnya masker dan hand sanitazer (penyanitasi tangan) di Kota Surabaya, ini merupakan contoh pengendalian yang tidak berhasil di atasi oleh pemkot,” katanya.

Menurut dia, peran Pemkot Surabaya saat ini adalah harus menjalankan protokol-protokol yang dibuat oleh pemerintah pusat dan dikondisikan dengan keadaan di Kota Surabaya yakni melakukan pemantauan, khususnya di ruang-ruang publik, transportasi, dan membatasi adanya kerumunan.

Banyak protokol yang telah dibuat oleh pemerintah pusat seperti, protokol kesehatan, protokol ruang publik, protokol perbatasan, protokol transportasi, dan protokol komunikasi, termasuk mengantisipasi dan menangkis hoaks yang banyak beredar, demikian Akmarawita Kadir. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*