[widget id="text-5"]

Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Kisah Mobil Mewah dan Cahaya Kejayaan Ngesti Pandawa Mulai Memudar

Ilustrasi pementasan Ngesti Pandawa | Foto: myimage.id
Bambang Iss Wirya

Dekade 1960-an hingga awal 1980-an dapat disebut sebagai era keemasan Ngesti Pandawa. Pertunjukannya yang boleh dikatakan tak pernah sepi penonton, dengan penampilan panggung glamour, inovatif, dan spektakuler (pada zamannya) selalu ditunggu para penggemar yang rela antri berdesakan untuk mendapatkan tiket.

Boleh dikata seniman panggung saat itu sangat terpandang di tegah masyarakat. Seniman wayang  sebagai warga istimewa, ahli dibidangnya, selebritis, dan bisa dikata mampu secara ekonomi. Nama Bambang Sudinar merupakan satu dari segelintir bintang panggung yang terkenal dengan peran Prabu Kresna antara  tahun 80-90 an. Dinar sangat ditunggu oleh penggemar yang kebanyakan dari kalangan wanita.

Jika Dinar tampil sudah tentu memiliki banyak penggemar, mereka kebanyakan para penonton perempuan. Sampai penggemarnya itu membelikan alat-alat rias wayang untuk Mas Dinar, seperti lipstik atau bedak untuk bis digunakan saat berpentas.

Sebagai pemilik Ngesti Pandawa, nama Ki Sastro Sabdo juga berkibar seiring dengan terus berkembangnya kelompok yang dipimpinnya itu. Diceritakan oleh Djoko Muljono, pada saat itu sebagai warga terpandang Sastro Sabdo pernah memiliki mobil mewah sedan merek Chevrolet Bel Air (1962).

Saat itu memang tidak banyak orang memiliki kendaraan semewah itu apalagi di kalangan seniman. Tak heran fakta ini menggelitik sebuah koran daerah yang memuatnya sebagai sebuah sensasi dengan judul berita “Apa Tumon Petruk Numpake Mobil Bel Air” (Percaya tidak, Petruk Naiknya Mobil Bel Air). Tokoh Petruk adalah tokoh Punakawan yang sering dimainkan Sastro Sabdo.

Namun sejak pertengahan 1980-an cahaya kejayaan Ngesti Pandawa mulai memudar seiring dengan berdirinya kelompok WO lain di Semarang seperti Sriwanito, dan Wahyu Budoyo. Perhatian masyarakat mulai terbelah, Ngesti Pandawa bahkan merasakan kehilangan daya pikat.

Regenerasi pemain dirasakan lagi tidak berjalan dengan baik, dan manajemen seni pertunjukan tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman, pamor WO yang didirikan lima pandawa ini pun mulai menyurut.

Mestinya pihak pemerintah terus memperhatikan dan menyelamatkan kondisi ini. Tapi sebenarnya itu bisa berubah dan juga sangat tergantung oleh para seniman seniwati pendukungnya, para pandhemen (pemerhati), serta elemen masyarakat lainnya.

Para pelaku seni di Ngesti Pandawa waktu itu ditantang untuk agar kesenian tidak diterjang zaman dan tidak gentar menghadapi rivalitas. Oleh karena itu dipikirkan pula adanya terobosan-terobosan atau upaya dari para senimannya untuk bertahan.

Baca juga: Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Kala Bung Karno Kesengsem Pada Primadona Suwarni Ngesti Pandawa

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


[widget id="text-3"]