Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, 60-an Perkumpulan Seni Tradisi Jadi Sawah Ladang Sampai Wayang Ngesti Pandawa Tak Melakukan Samben

Foto: instagram ngesti_pandowo
Bambang Iss Wirya

Tahun 60, sarana hiburan sudah dilayani oleh media elektronik televisi. Tapi itu hanya terlayani oleh TVRI sebagai satu-satunya lembaga penyiaran publik milik pemerintah Indonesia. Pada awal TVRI lahir, hasil gambar yang diterima di rumah-rumah sangat kepyur (tidak jelas), dengan teknologi gambar hitam putih.

Ditambah lagi cakupan (coverage) pemirsanya tidak merata karena saat itu tidak semua orang memiliki perangkat penerima siaran berupa pesawat TV. Rupanya hanya keluarga tertentu saja  memiliki barang yang masih tergolong mewah dan mahal.

Kondisi itu menyebabkan masyarakat sangat menunggu hiburan di luar rumah tinggal yaitu wayang orang dan ketoprak yang disediakan oleh sebuah perkumpulan kesenian dalam tontonan tobong.

Bahwa akhirnya kesenian seperti wayang orang, wayang kulit, kethoprak, ludruk menjadi tontonan yang paling ditunggu. Pementasan tobong yang dihadirkan beberapa perkumpulan seni tradisi mulai muncul di masyarakat.

Beberapa nama terkenal kala itu selain Ngesti Pandawa, ada nama-nama kelompok ludruk Jawa Timur yang merangsek sampai ke beberapa kota kecil di Jawa Tengah. Perkumpulan ludruk pimpinan Riboet Rawit atau Srimulat misalnya, menjadi pesaing kuat beberapa kelompok seni asal Jawa Tengah.

Dalam perjalanan, akhirnya Ngesti mampu menyelenggarakan pentas setiap malam di satu tempat representatif dan bukan dalam bentuk tobong yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini menjadikan para anggota Ngesti Pandawa menganggap perkumpulan ini telah bisa diharapkan kehidupannya sebagai sawah ladangnya.

Sadar sudah menjadi sawah ladangnya, maka tak seorang anggotanya pun melakukan samben (pekerjaan lain) atau punya kesibukan selain bermain wayang di Ngesti Pandawa. Jika tidak ada jadwal pertunjukan, hampir semua personel perkumpulan memanfaatkannya untuk tidur siang, atau sekadar bergurau dan bermain kartu dan dalam suasana yang guyub (rukun).

Baca juga: Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Melihat Rembug Keluarga Dinasti Ngesti Pandawa di Masa Vakum Kepemimpinan Ki Sastro Soedirdjo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*