Harga Gula Pasir di Semarang Tembus Rp18.000/Kg

Ilustrasi | Foto: republika.co.id

JoSS, SEMARANG – Harga gula pasir di Semarang terus melejit dalam beberapa pekan terakhir menyusul kelangkaan komoditas itu di sejumlah daerah. Jika sebelumnya satu kilo gram gula pasir dijual dengan harga sekitar Rp12.000, kini bisa mencapai Rp18.000 per kilogramnya.

Martini penjual sembako di Pasar Peterongan Semarang mengaku harga gula pasir naik terus setiap harinya, untuk itu dia tidak berani berspekulasi dengan menyetok banyak. Selain itu, keberadaan gula semakin langka dalam sepekan terakhir.

“Dari distributornya sudah naik terus, katanya karena cuaca yang tidak mendukung sehingga musim giling mundur,” katanya kepada JoSS.co.id, Senin (9/3).

Menurutnya kenaikkan gula pasir ini juga bisa disebabkan karena menjelang bulan Ramadhan. Biasanya memang ada peningkatan kebutuhan masyarakat terutama untuk membuat kue kering, sehingga harga naik. Meski demikian, tahun-tahun sebelumnya pasokan gula tetap lancar, tidak seperti data ini.

“Kalau biasanya menjelang Puasa memang harga naik, tapi pasokan lancar. Kalau sekarang ini, barangnya juga tidak ada,” tuturnya.

Pemilik toko kelontong di daerah Sambiroto Semarang juga mengungkapkan hal senada. Harga gula pasir mencapai Rp17.900-Rp18.000 per kilogram. Hal itu menyebabkan daya beli masyarakat turun.

Baca juga: Tak Perlu Panik, Stok Beras di Jateng Cukup Untuk 8 Bulan ke Depan

“Sering dikomplain sama pembeli, kok harga naik terus. Memang dari sananya sudah naik,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fravarta Sadman melalui akun instagram-nya menjelaskan, dalam menghadapi situasi seperti ini pihaknya melakukan monitoring ke pasar dan berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

“Ketersediaan gula di pasar masih cukup. Adapun kenaikan gula memang dari distributornya naik menjadi Rp 15.000,- /kg ini dikarenakan stok di produsen kosong yang disebabkan faktor cuaca yang tidak menentu sehingga tanaman tebu belum layak untuk dipanen dan musim giling masih menunggu sampai akhir Bulan Mei,” katanya.

Lebih lanjut Fravarta menjelaskan, maka selanjutnya Disperindag Prov Jateng akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Pusat supaya ini tidak berkepanjangan dalam menyambut bulan puasa. “Langkah Pemerintah masih menunggu importasi raw sugar yang saat ini masih proses di importir, dan harapannya sebelum lebaran harga sudah normal karena pabrik gula bersedia memproduksi dengan bahan baku raw sugar,” ungkapnya.

Selain itu, langkah lain dari pemerintah adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 14 Tahun 2020 tentang Ketentuan Impor Gula. “Regulasi baru itu membolehkan swasta ikut mengimpor gula untuk stabilitas harga ditingkat konsumen, dan harapannya menjadi lebih baik karena ketersediannya lebih pasti yang akan menormalisasikan harga kembali,” imbuhnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*