Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Cerita dari GRIS, Gedung Yang Mengakhiri Masa Pementasan Tobong Ngesti Pandawa #1

Gedung GRIS | Foto: facebook Saiful Bahri‎
Bambang Iss Wirya

Ngesti Pandawa telah mencatat perjalanan sejarah yang panjang selama berada di Kota Semarang. Sejak berdiri di Maospati Madiun (1937) pun dalam melakukan pementasannya, perkumpulan ini telah beberapa kali mengalami perpindahan lokasi pementasan mengikuti situasi politik dan pemerintahan yang tidak menentu saat itu.

Bermula pada 1954 Ngesti Pandawa menempati gedung di kompleks GRIS (Gedung Rakyat Indonesia Semarang) di kawasan Bojong (sekarang jalan Pemuda Semarang). Itu terjadi setelah beberapa lama melakukan pementasan tobong dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

Wali Kota Semarang waktu itu Hadi Subeno Sosrowerdojo, meminta kelompok itu agar menetap saja di Semarang. Diberikanlah di sebuah bangunan semi permanen di kompleks utama GRIS, bukan menempati gedung utama yang pernah dijadikan pusat hiburan (amusement center) bagi orang-orang Belanda.

Bagi penduduk Kota Semarang kala itu gedung GRIS, singkatan dari kata Gedung Rakyat Indonesia Semarang yang dahulu bernama Sociteit Harmonie sangat terkenal. Di zaman Belanda gedung itu sebagai tempat berkumpulnya orang-orang Belanda dan elit lainnya. Di gedung itu mereka dapat bersantai, berdansa dan makan minum maupun bermain kartu dan bola sodok.

Sebenarnya gedung itu sebagai pengganti gedung Sociteit yang lama di Jalan Westerwalstraat (Jalan Mpu Tantular sekarang) sebab letaknya kurang strategis dan kemudian dijual pada perusahaan Nederlandsche Handel Maatschappij.

Tidaklah jelas mengapa gedung bekas Sociteit Harmonie itu berganti nama menjadi GRIS. Namun menurut cerita orang, dibelinya gedung itu oleh beberapa orang Belanda merupakan patungan dengan masyarakat Semarang. Satu tahun kemudian gedung itu betul-betul menjadi milik masyarakat Kota Semarang. Perkembangan selanjutnya di gedung itu dibuka sebuah bioskop dengan nama Metropole dan disampingnya terdapat gedung untuk pementasan wayang orang Ngesti Pandawa dan sebuah perpustakaan rakyat. (Jongkie Tio : 41)

Baca juga: Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Kisah Mobil Mewah dan Cahaya Kejayaan Ngesti Pandawa Mulai Memudar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*