
JoSS, SEMARANG – Nasib SMPN 16 Kota Semarang kini makin memprihatinkan. Tiga tahun lebih sekitar 870 siswa masih bertahan di bangunan dan lahan yang kini tinggal separo karena tergusur proyek Tol Semarang – Batang belum juga direlokasi. Sebagian siswa bahkan belajar di lapangan.
Lahan SMPN 16 Semarang Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan, Semarang, Jawa Tengah, yang tadinya seluas 1 hektare kini tinggal 5.000 meter, karena sebagian terdampak proyek tol Semarang-Batang. Beberapa bangunan seperti Aula, Ruang BK, Ruang Guru dan Ruang UKS seluruhnya dibongkar.
Herdian Bergas (14) siswa kelas 9 SMPN 16 Kota Semarang mengeluhkan kondisi sekolahnya yang dipenuhi dengan debu dan bising suara alat berat pengerjaan konstruksi jalan tol. Tak hanya itu, separuh bagian dari sekolah tergusur dan membuat proses kegiatan belajar mengajar terganggu. Seperti halnya ruang aula yang saat ini sudah tidak terlihat wujudnya lagi.
“Sekarang sekolah jadi makin sempit, gedung-gedung banyak yang dibongkar. Bahkan sekarang pinjem buku di perpustakaan sekolah makin susah karena nyatu sama ruang guru, ruang UKS jadi kecil, semuanya jadi susah” ujarnya saat di temui di sekolahnya usai kegiatan sekolah,” ujarnya, seperti dikutip dari Jagaberita.com.
Hal senada juga dikeluhkan siswa SMP 16 lainnya, Alvin Arvianto. Siswa yang juga salah satu atlit voli dan futsal di sekolahnya menyayangkan di bongkarnya fasilitas gedung aula sekolahnya yang biasa digunakan untuk berolahraga.
“Aula itu dulu biasa digunakan untuk latihan olahraga sekarang susah kalau mau olahrga, apalagi kalau musim kemarau gini, panas banget. Bukannya makin sehat setelah olahraga tapi malah makin gak karuan saking panasnya,” imbuhnya.
Baca juga: Terganjal Regulasi, Nasib Ganti Rugi Lahan SMP 16 Semarang Tak Jelas
Mereka mengeluhkan kegiatan belajarnya jadi tidak maksimal lantaran ruang kelasnya harus dipindahkan. Bahkan sebagian dari mereka yang seharusnya melakukan kegiatan belajar di ruang aula harus berpindah ke lapangan terbuka di bawah terik sinar matahari.
Seperti kegiatan olahraga, latihan tari, taekwondo, silat dan doa bersama sekarang harus berpanas-panasan di luar. Salah satu siswa kelas IX, Herdin Bergas F (14) mengungkapkan keresahannya dengan kondisi sekolah yang terdampak pembangunan jalan tol tersebut.
Dua siswa itu menambahkan, kunjungan Walikota Semarang Hendrar Prihadi setahun silam, seperti tidak memberikan perubahan apapun bagi sekolahnya.
“Pak Hendi pernah kesini, janji ini itu tapi ditungguin udah setahun ini nggak ada perubahan juga. Ruangan belajar makin terbatas apalagi nanti ada tiga kelas yang mau dibongkar,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Negeri 16 Semarang, Yuli Heriani mengatakan kondisi sekolah saat ini sudah tidak nyaman untuk kegiatan belajar mengajar. Dimana beberapa bangunan seperti Aula, Ruang BK, Ruang Guru dan Ruang UKS seluruhnya dibongkar.
“Bahkan sekarang gerbang utama sekolah sudah tidak bisa dilewati. Ditutup total dan dipindah ke samping,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, Yuliberharap, untuk segera dilakukan relokasi sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan nyaman dana man untuk para siswa. (lna)

Leave a Reply